Senin, 01 September 2014

RUIS - Analisis Laporan Keuangan Q2 2014




Analisis Laporan Keuangan PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) Q2 2014

Perusahaan secara tahunan sampai dengan Q2 2014 mencetak pertumbuhan pendapatan  sebesar 6%. Di sisi beban pokok, beban naik sebesar 5%  sehingga laba kotor dapat naik sebesar 16%. Di sisi lain, beban usaha meningkat sebesar 14% sehingga laba usaha bertambah sebesar 18%. Kombinasi dari beban keuangan, laba-rugi selisih kurs dan beban lain yang meningkat sebesar 50% menyebabkan laba sebelum pajak tergerus sebesar 20%. Laba bersih kemudian melemah sebesar 37% dikarenakan beban pajak yang meningkat sebesar 9%. Perusahaan menderita kerugian selisih kurs yang signifikan pada periode ini dan juga pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, maka laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan mengembang sebesar 25%.

Secara kuartalan perusahaan mencetak peningkatan pendapatan  sebesar 5%. Di sisi beban pokok, beban naik sebesar 6%  sehingga laba kotor dapat naik tipis sebesar 1%. Di sisi lain, beban usaha berkurang sebesar 22% sehingga laba usaha bertambah sebesar 27%. Kombinasi dari beban keuangan, laba-rugi selisih kurs dan beban lain yang meningkat sebesar 174% menyebabkan laba sebelum pajak tergerus sebesar 41%. Laba bersih kemudian melemah sebesar 37% dikarenakan beban pajak yang menurun sebesar 49%. Perusahaan menderita kerugian selisih kurs yang signifikan pada periode ini dan menikmati keuntungan selisih kurs pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, maka laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan mengembang sebesar 48%.

Secara tahunan rasio GPM meningkat tipis menjadi 15,73% dari 14,40%. Secara kuartalan rasio menyusut menjadi 13,87% dari 14,44%.

Saldo aset tetap secara tahunan meningkat sebesar 23%. Peningkatan ini diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial perusahaan secara tahunan meningkat sebesar 25%. Beban keuangan bertambah sebesar 19%. Beban keuangan merupakan beban yang berpengaruh signifikan terhadap laba bersih perusahaan.

Rasio DER tahunan perusahaan termasuk cukup tinggi di level 423% berbanding 371% pada periode sebelumnya.

Pengeluaran kas untuk investasi secara tahunan meningkat sebesar 21%. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar adalah setara dengan 18% berbanding 18% juga pada periode sebelumnya.

JAWA - Analisis Laporan Keuangan Q2 2014




Analisis Laporan Keuangan PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) Q2 2014

Perusahaan sampai dengan Q2 2014 mencatat pertumbuhan penjualan tahunan sebesar 25%. Di sisi beban pokok, beban meningkat sebesar 31% sehingga laba kotor naik sebesar 13%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha, beban keuangan dan pendapatan-beban lainnya yang meningkat sebesar 63% menyebabkan laba sebelum pajak turun sebesar 10%. Beban pajak penghasilan  meningkat sebesar 28% sehingga laba bersih terpangkas sebesar 21%. Jika disesuaikan, maka laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan tergerus  sebesar 20%.

Secara kuartalan penjualan tumbuh sebesar 15%. Di sisi beban pokok, beban meningkat sebesar 8% sehingga laba kotor naik sebesar 38%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha, beban keuangan dan pendapatan-beban lainnya yang meningkat sebesar 60% menyebabkan laba sebelum pajak naik sebesar 28%. Beban pajak penghasilan  meningkat sebesar 28% sehingga laba bersih meningkat juga sebesar 28%. Jika disesuaikan, maka laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan mengembang  sebesar 64%.
  
Rasio GPM  tahunan menyusut menjadi  29,89% dari 33,10% dan secara kuartalan mengembang menjadi 30,81% dari 25,82%.

Secara tahunan saldo tanaman perkebunan menghasilkan meningkat sebesar 2%. Saldo tanaman perkebunan belum menghasilkan meningkat sebesar 42%. Saldo aset tetap meningkat sebesar 20%. Peningkatan-peningkatan tersebut diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Perusahaan mencatat peningkatan hutang finansial tahunan sebesar 43%.  Beban keuangan meningkat sebesar 38%. Beban keuangan merupakan beban yang berpengaruh besar terhadap laba bersih perusahaan.

Pengeluaran kas untuk investasi secara tahunan menyusut sebesar 4%. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar, maka pengeluaran tersebut setara dengan 18% berbanding 24% pada periode sebelumnya. 

Sabtu, 30 Agustus 2014

BATA - Analisis Laporan Keuangan Q2 2014




Analisis Laporan Keuangan PT Sepatu Bata Tbk (BATA) Q2 2014

Perusahaan secara tahunan sampai dengan Q2 2014 mencetak pertumbuhan penjualan  sebesar 21%. Di sisi beban pokok, beban naik sebesar 35%  sehingga laba kotor meningkat sebesar 4%. Di sisi lain, beban usaha dan beban lain bertambah sebesar 17% sehingga laba usaha terpangkas sebesar 29%. Beban keuangan yang meningkat menyebabkan laba sebelum pajak turun sebesar 30%. Laba bersih kem
udian tergerus sebesar 27% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 37%.

Secara kuartalan perusahaan mencetak kenaikan penjualan sebesar 19%. Di sisi beban pokok, beban naik sebesar 25%  sehingga laba kotor meningkat sebesar 13%. Di sisi lain, beban usaha dan beban lain bertambah sebesar 10% sehingga laba usaha bertambah sebesar 20%. Beban keuangan yang meningkat menyebabkan laba sebelum pajak mengembang sebesar 20% juga. Laba bersih kemudian naik sebesar 23% dikarenakan beban pajak penghasilan yang bertambah sebesar 15%.

Secara tahunan rasio GPM menyusut menjadi 39,92% dari 46,33%. Secara kuartalan rasio terkikis menjadi 42,81% dari 45,45% namun masih lebih tinggi daripada rasio tahunan.

Saldo aset tetap secara tahunan meningkat sebesar 27%. Peningkatan ini diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial perusahaan secara tahunan meningkat dari semula tidak ada. Beban keuangan bertambah sebesar 57%. Beban keuangan bukan merupakan beban yang berpengaruh besar terhadap laba bersih perusahaan.

Secara tahunan pengeluaran kas untuk investasi meningkat sebesar 39%. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar, pengeluaran tersebut setara dengan 15% berbanding 14% pada periode sebelumnya.

GIAA - Analisis Laporan Keuangan Q2 2014




Analisis Laporan Keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) Q2 2014

Perusahaan secara tahunan sampai dengan Q2 2014 mencetak kenaikan tipis pendapatan  sebesar 1%. Di sisi beban usaha, beban turun sebesar 11%  sehingga perusahaan mengalami rugi usaha. Pada akhirnya perusahaan mengalami rugi bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berbanding laba bersih  pada periode sebelumnya. Kerugian ini termasuk sangat parah karena setara dengan 21% ekuitas.

Secara kuartalan perusahaan mencetak kenaikan pendapatan  sebesar 15%. Di sisi beban usaha, beban turun sebesar 3%  sehingga rugi usaha berkurang sebesar 79%. Pada akhirnya perusahaan mengalami rugi bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang turun sebesar 59%.

Secara tahunan rasio OPM memburuk menjadi -5,14% dari 4,56%. Secara kuartalan rasio membaik menjadi -4,44% dari -23,86%.

Saldo aset tetap secara tahunan meningkat sebesar 9%. Peningkatan ini diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial perusahaan secara tahunan meningkat sebesar 52%. Perusahaan secara tahunan mencatat kenaikan beban keuangan sebesar 92%. Beban keuangan merupakan beban yang berpengaruh signifikan terhadap laba bersih.

Pengeluaran kas untuk investasi secara tahunan menyusut sebesar 59%. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar pengeluaran tersebut setara dengan 10% berbanding 28% pada periode sebelumnya.

ANTM - Analisis Laporan Keuangan Q2 2014




Analisis Laporan Keuangan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) Q2 2014

Perusahaan secara tahunan sampai dengan Q2 2014 mencetak penurunan penjualan  sebesar 24%. Di sisi beban pokok, beban turun sebesar 18%  sehingga laba kotor terperosok sebesar 56%. Di sisi lain, beban usaha berkurang sebesar 16% sehingga perusahaan mengalami rugi usaha dibandingkan dengan laba usaha pada periode sebelumnya. Pada akhirnya perusahaan mengalami rugi bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berbanding laba bersih  pada periode sebelumnya.

Secara kuartalan perusahaan mencetak penurunan penjualan sebesar 27%. Di sisi beban pokok, beban turun sebesar 35%  sehingga laba kotor meningkat sebesar 389%. Di sisi lain, beban usaha bertambah sebesar 89% sehingga perusahaan mengalami rugi usaha yang berkurang sebesar 50%. Pada akhirnya perusahaan mengalami rugi bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dengan peningkatan sebesar 27%.

Secara tahunan rasio GPM memburuk menjadi 10,10% dari 17,40%. Secara kuartalan rasio mengembang menjadi 12,86% dari 1,92%. Peningkatan ini tampaknya belum cukup untuk menghasilkan laba bersih.

Kerugian perusahaan juga banya disumbang dari rugi bersih entitas asosiasi dan entitas dalam pengendalian bersama.

Saldo aset tetap secara tahunan meningkat sebesar 37%. Peningkatan ini diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial perusahaan secara tahunan meningkat sebesar 24%. Perusahaan secara tahunan masih menikmati pendapatan keuangan secara neto. Namun, secara kuartalan perusahaan menderita beban keuangan yang cukup besar.

Pengeluaran kas untuk investasi secara tahunan menyusut sebesar 44%. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar pengeluaran tersebut setara dengan 14% berbanding 28% pada periode sebelumnya.