Jumat, 31 Oktober 2014

ISSP - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014



Analisis Laporan Keuangan PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) Q3 2014


Tahunan (TTM)

Penjualan meningkat sebesar 13%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 16% sehingga laba kotor terkikis  sebesar 1%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha, laba-rugi selisih kurs dan pendapatan-beban lain menyusut sebesar 33% sehingga laba usaha tumbuh sebesar 17%. Di sisi lain, kombinasi dari pendapatan-beban keuangan dan bagian atas laba-rugi entitas asosiasi meningkat sebesar 3% sehingga laba sebelum pajak naik sebesar 26%.

Pada akhirnya laba bersih tumbuh sebesar 34% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 7%. Perusahaan mendulang keuntungan selisih kurs pada periode ini dan mengalami kerugian selisih kurs pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan naik sebesar 5%.

Rasio GPM menyusut menjadi 15,34% dari 17,56%.

Saldo aset tetap bertambah sebesar 38%. Penambahan ini diharapkan dapat menopang pertumbuhan pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial bertambah sebesar 23%. Beban keuangan meningkat sebesar 4%. Beban keuangan merupakan beban yang  berpengaruh signifikan terhadap laba bersih.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Penjualan tidak banyak mengalami perubahan. Begitu juga dengan beban pokok dan laba kotor. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha, laba-rugi selisih kurs dan pendapatan-beban lain menyusut sebesar 26% sehingga laba usaha tumbuh sebesar 15%. Di sisi lain, kombinasi dari pendapatan-beban keuangan dan bagian atas laba-rugi entitas asosiasi meningkat sebesar 17%  sehingga laba sebelum pajak naik sebesar 14%.

Pada akhirnya laba bersih tumbuh sebesar 13% dikarenakan beban pajak penghasilan yang bertambah sebesar 17%. Perusahaan mengalami kerugian selisih kurs pada periode ini dan pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan naik sebesar 45%.

Rasio GPM menyusut tipis menjadi 17,44% dari 17,52%.

BBNI - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014



Analisis Laporan Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Q3 2014


Tahunan (TTM)

Pendapatan bunga dan syariah meningkat sebesar 27%. Beban bunga dan syariah meningkat sebesar 47% sehingga pendapatan bunga dan syariah bersih naik sebesar 20%. Di sisi lain, pendapatan operasional lainnya menyusut sebesar 3%. Beban penyisihan cadangan kerugian penurunan nilai meningkat sebesar 32%. Beban operasional lainnya bertambah sebesar 9%. Kombinasi dari pendapatan dan beban-beban tersebut membuat laba operasional tumbuh sebesar 11%. Di sisi lain, muncul pendapatan non-operasional berbanding beban non-operasional pada periode sebelumnya sehingga laba sebelum pajak naik sebesar 19%. 

Laba bersih kemudian tercatat bertambah juga  sebesar 19% karena beban pajak penghasilan yang bertambah sebesar 19%.

Rasio GPM melemah menjadi 67,99% dari 72,22%.

Dari sisi neraca, kredit yang diberikan mengalami kenaikan sebesar 14%. Simpanan nasabah meningkat sebesar 12%.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Pendapatan bunga dan syariah meningkat sebesar 7%. Beban bunga dan syariah meningkat sebesar 16% sehingga pendapatan bunga dan syariah bersih naik sebesar 3%. Di sisi lain, pendapatan operasional lainnya meningkat sebesar 2%. Beban penyisihan cadangan kerugian penurunan nilai meningkat sebesar 14%. Beban operasional lainnya bertambah sebesar 1%. Kombinasi dari pendapatan dan beban-beban tersebut membuat laba operasional tumbuh sebesar 1%. Di sisi lain, pendapatan non-operasional meningkat sebesar 129% sehingga laba sebelum pajak naik sebesar 7%. 

Laba bersih kemudian tercatat bertambah juga  sebesar 6% karena beban pajak penghasilan yang bertambah sebesar 7%.

Rasio GPM melemah menjadi 64,53% dari 67,08%.

Dari sisi neraca, kredit yang diberikan mengalami kenaikan sebesar 4%. Simpanan nasabah menurun sebesar 2%.

ADRO - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014



Analisis Laporan Keuangan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Q3 2014



Tahunan (TTM)

Pendapatan menyusut tipis sebesar 1%. Di sisi beban pokok, beban berkurang sebesar 3% sehingga laba kotor meningkat  sebesar 3%. Di sisi beban usaha dan pendapatan-beban lain, beban menyusut sebesar 19% sehingga laba usaha tumbuh sebesar 12%. Di sisi lain, kombinasi dari beban keuangan dan bagian laba-rugi entitas asosiasi meningkat sebesar 16% sehingga laba sebelum pajak naik sebesar 11%.

Pada akhirnya laba bersih tumbuh sebesar 23% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 2%. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk kemudian naik sebesar 21%.

Perusahaan mengalami kerugian lain-lain pada periode ini dan juga pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan (tarif pajak digunakan standar 25%), laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan naik sebesar 5%.

Rasio GPM mengembang menjadi 22,78% dari 21,76%.

Saldo aset tetap berkurang sebesar 5%. Saldo properti pertambangan tumbuh sebesar 11%. Besarnya aset tetap dan properti pertambangan diharapkan dapat menopang pertumbuhan pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial meningkat sebesar 24%. Beban keuangan meningkat sebesar 23%. Beban keuangan merupakan beban yang  berpengaruh signifikan terhadap laba bersih.

Pengeluaran kas untuk investasi menyusut sebesar 72%. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar, pengeluaran tersebut hanya setara dengan 1% berbanding 4%.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)
Pendapatan menyusut sebesar 4%. Di sisi beban pokok, beban tidak banyak berubah sehingga laba kotor terpangkas  sebesar 18%. Di sisi beban usaha dan pendapatan-beban lain, beban menyusut sebesar 37% sehingga laba usaha tergerus sebesar 7%. Di sisi lain, kombinasi dari beban keuangan dan bagian laba-rugi entitas asosiasi meningkat sebesar 61% sehingga laba sebelum pajak turun sebesar 28%.

Pada akhirnya laba bersih tumbuh sebesar 31% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 75%. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk kemudian naik sebesar 32%.

Perusahaan mengalami kerugian lain-lain pada periode ini dan juga pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan (tarif pajak digunakan standar 25%), laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan turun sebesar 13%.

Rasio GPM menyusut menjadi 18,84% dari 22,08%.

Kamis, 30 Oktober 2014

SRIL - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014

Analisis Laporan Keuangan PT Sri Rezeki Isman Tbk (SRIL) Q3 2014


Tahunan (TTM)

Penjualan meningkat sebesar 23%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 21% sehingga laba kotor meningkat  sebesar 30%. Di sisi beban usaha dan pendapatan-beban lain, beban meningkat sebesar 1% sehingga laba usaha tumbuh sebesar 42%. Di sisi lain, kombinasi dari beban keuangan dan laba-rugi selisih kurs meningkat sebesar 113% sehingga laba sebelum pajak naik sebesar 6%.

Pada akhirnya laba bersih tumbuh sebesar 1%. Perusahaan mengalami kerugian selisih kurs yang signifikan pada periode ini dan juga pada periode sebelumnya. Perusahaan menikmati keuntungan lain-lain yang lumayan pada periode ini dan juga pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan naik sebesar 33%.

Rasio GPM mengembang menjadi 20,34% dari 19,13%.

Saldo aset tetap bertambah sebesar 63%. Penambahan ini diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial berlipat sebesar 111%. Beban keuangan meningkat sebesar 53%. Beban keuangan merupakan beban yang  berpengaruh signifikan terhadap laba bersih.

Kas bersih yang diterima dari aktivitas operasi mengalami minus yang cukup besar yang banyak disebabkan oleh naiknya nilai persediaan. Kekurangan kas untuk aktivitas operasi dan investasi ditutupi sebagian besar dari penerbitan surat hutang sehingga menyebabkan melambungnya hutang finansial.

Pengeluaran kas untuk investasi meningkat sebesar 18%. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar, pengeluaran tersebut setara dengan 38% berbanding 42%.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Penjualan meningkat sebesar 27%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 30% sehingga laba kotor meningkat  sebesar 14%. Di sisi beban usaha dan pendapatan-beban lain, beban meningkat sebesar 41% sehingga laba usaha tumbuh sebesar 5%. Di sisi lain, kombinasi dari beban keuangan dan laba-rugi selisih kurs menurun sebesar 59% sehingga laba sebelum pajak melambung sebesar 639%.

Pada akhirnya laba bersih tumbuh sebesar 237%. Perusahaan mengalami kerugian selisih kurs yang jauh berkurang pada periode ini daripada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan turun sebesar 2%.

Rasio GPM menyusut menjadi 18,60% dari 20,64%.

Penerimaan kas operasi bersih mengalami peningkatan yang tajam. 

PTPP - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014




Analisis Laporan Keuangan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) Q3 2014


Tahunan (TTM)

Pendapatan usaha mengalami peningkatan sebesar 8%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 6% sehingga laba kotor meningkat sebesar 21%. Di sisi lain, beban usaha meningkat sebesar 37% sehingga laba usaha tumbuh sebesar 19%. Laba sebelum pajak meningkat sebesar 15% dikarenakan kombinasi dari beban keuangan, bagian laba ventura bersama, beban penurunan nilai piutang dan lain-lain yang meningkat sebesar 29%.

Laba bersih kemudian mengembang sebesar 17%  dikarenakan beban pajak penghasilan yang meningkat sebesar 13%. Pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat juga sebesar 17%.

Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan naik sebesar 25%

Rasio GPM meningkat menjadi 11,95% dari 10,61%.

Saldo aset tetap meningkat pesat sebesar 171%. Properti investasi tumbuh sebesar 15%. Besarnya aset tetap dan properti investasi diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial meningkat sebesar 30%. Beban keuangan meningkat sebesar 25%. Beban keuangan merupakan beban yang berpengaruh besar terhadap laba bersih.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Pendapatan usaha mengalami peningkatan sebesar 23%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 25% sehingga laba kotor meningkat sebesar 11%. Di sisi lain, beban usaha menurun sebesar 57% sehingga laba usaha tumbuh sebesar 41%. Laba sebelum pajak meningkat sebesar 40% dikarenakan kombinasi dari beban keuangan, bagian laba ventura bersama, beban penurunan nilai piutang dan lain-lain yang meningkat sebesar 43%.

Laba bersih kemudian mengembang sebesar 68%  dikarenakan beban pajak penghasilan yang meningkat sebesar 12%. Pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat juga sebesar 68%.

Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan naik sebesar 67%

Rasio GPM menyusut menjadi 11,71% dari 13,03%.