Jumat, 01 Agustus 2014

BMTR - Analisis Laporan Keuangan Q2 2014




Analisis Laporan Keuangan PT Global Mediacom Tbk (BMTR) Q2 2014

Perusahaan secara tahunan sampai dengan Q2 2014 mencetak kenaikan pendapatan yang moderat yaitu sebesar 9%. Di sisi lain beban pokok meningkat sebesar 18% sehingga laba kotor menipis sebesar 1%. Beban usaha, beban keuangan dan beban lainnya meningkat sebesar 80% sehingga laba sebelum pajak terpangkas sebesar 50%.  Naiknya beban pajak penghasilan menyebabkan laba bersih menyusut sebesar 56%. Perusahan menderita kerugian selisih kurs yang signifikan pada periode ini. Jika disesuaikan, pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan terpangkas sebesar  48%.

Secara kuartalan perusahaan mencetak kenaikan pendapatan sebesar 17%. Di sisi lain beban pokok justru meningkat tipis yaitu sebesar 2% sehingga laba kotor bertambah sebesar 42%. Beban usaha, beban keuangan dan beban lainnya yang lebih tinggi menyebabkan laba sebelum pajak terpangkas sebesar 31%.  Perusahaan menderita kerugian selisih kurs yang cukup besar pada periode ini dan menikmati keuntungan selisih kurs pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, pada akhirnya laba bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan menguat sebesar 19%.

Secara tahunan rasio GPM menyusut menjadi 43,07% dari 47,29%. Secara kuartalan rasio melonjak menjadi 46,04% dari 38,01%.

Secara tahunan saldo aset tetap meningkat sebesar 26%. Peningkatan ini diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial secara tahunan meningkat sebesar 14%. Beban keuangan turut meningkat. Beban keuangan merupakan beban yang berpengaruh signifikan terhadap laba bersih.

Rasio DER perusahaan tergolong tidak begitu tinggi di level 45%.  Perusahaan mempunyai neraca yang sehat dengan jumlah aset lancar yang cukup besar.

MNCN - Analisis Laporan Keuangan Q2 2014




Analisis Laporan Keuangan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) Q2 2014

Perusahaan secara tahunan sampai dengan Q2 2014 mencetak kenaikan pendapatan yang moderat yaitu sebesar 6%. Di sisi lain beban pokok meningkat sebesar 8% sehingga laba kotor menipis sebesar 5%. Beban usaha, beban keuangan dan beban lainnya meningkat sebesar 23% sehingga laba sebelum pajak tergelincir sebesar 2%.  Naiknya beban pajak penghasilan menyebabkan laba menyusut sebesar 6%. Perusahan menderita kerugian selisih kurs yang signifikan pada periode ini. Jika disesuaikan, pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan menipis sebesar  5%.

Secara kuartalan perusahaan mencetak kenaikan pendapatan signifikan sebesar 25%. Di sisi lain beban pokok justru menurun yaitu sebesar 6% sehingga laba kotor bertambah sebesar 55%. Beban usaha, beban keuangan dan beban lainnya yang lebih tinggi menyebabkan laba sebelum pajak meningkat sebesar 49%.  Jika disesuaikan, pada akhirnya laba bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan menguat sebesar 53%.

Secara tahunan rasio GPM menyusut tipis menjadi 56,64% dari 57,15%. Secara kuartalan rasio melonjak menjadi 64% dari 51,75%.

Secara tahunan saldo aset tetap meningkat sebesar 55%. Peningkatan ini diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial secara tahunan terpangkas drastis sebesar 49%. Beban keuangan turut terpangkas. Perusahaan secara neto tidak lagi menderita beban keuangan.

Pengeluaran kas untuk perolehan aset tetap secara tahunan melonjak sebesar 171%. Rasio DER perusahaan tergolong sangat rendah di level 18%.  Perusahaan mempunyai neraca yang sangat baik dengan jumlah aset lancar yang sangat besar.

MAPI - Analisis Laporan Keuangan Q2 2014




Analisis Laporan Keuangan MAPI Q2 2014

PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) secara tahunan sampai dengan Q2 2014 mencetak kenaikan pendapatan yang signifikan yaitu sebesar 28%. Di sisi lain beban pokok meningkat sebesar 33% sehingga laba kotor meningkat sebesar 22%. Beban usaha dan beban lainnya meningkat sebesar 30% sehingga laba usaha tergelincir sebesar 29%.  Laba bersih pada akhirnya terperosok sebesar 32%. Jika disesuaikan, pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan terpangkas sebesar  28%.

Secara kuartalan perusahaan mencetak kenaikan pendapatan sebesar 6%. Di sisi lain beban pokok meningkat juga yaitu sebesar 2% sehingga laba kotor bertambah sebesar 10%. Beban usaha dan beban lainnya meningkat sebesar 9% sehingga laba sebelum pajak meningkat  sebesar 12%.  Dengan beban pajak penghasilan yang lebih rendah, laba bersih meningkat sebesar 20%. Jika disesuaikan, pada akhirnya laba bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan menguat sebesar 130% karena perusahaan pada periode ini menderita kerugian selisih kurs dan pada periode sebelumnya menikmati keuntungan selisih kurs.

Secara tahunan rasio GPM menyusut menjadi 48,55% dari 50,64%. Secara kuartalan rasio menguat menjadi 48,22% dari 46,53%. Namun rasio ini masih lebih kecil daripada rasio tahunan.

Secara tahunan saldo aset tetap meningkat sebesar 15%. Peningkatan ini diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial secara tahunan meningkat drastis sebesar 40%. Beban keuangan turut melesat sebesar 61%. Beban keuangan merupakan beban yang berpengaruh signifikan terhadap laba bersih perusahaan.

Pengeluaran kas untuk investasi secara tahunan berkurang tipis sebesar 6%. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar, pengeluaran tersebut adalah berjumlah 24%.

SMCB - Analisis Laporan Keuangan Q2 2014




Analisis Laporan Keuangan SMCB Q2 2014

PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) secara tahunan sampai dengan Q2 2014 mencetak kenaikan pendapatan yang moderat yaitu sebesar 9%. Di sisi lain beban pokok meningkat sebesar 13% sehingga laba kotor menipis sebesar 1%. Beban usaha dan beban lainnya meningkat sebesar 25% sehingga laba usaha tergelincir sebesar 14%.  Naiknya beban keuangan banyak berpengaruh pada laba sebelum pajak sehingga laba sebelum pajak terjerembab sebesar 29%. Perusahan menderita kerugian selisih kurs yang signifikan pada periode ini. Jika disesuaikan, pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan menipis sebesar  8%.

Secara kuartalan perusahaan mencetak kenaikan pendapatan sebesar 9%. Di sisi lain beban pokok meningkat juga yaitu sebesar 10% sehingga laba kotor bertambah sebesar 8%. Beban usaha dan beban lainnya yang lebih tinggi menyebabkan laba usaha merosot tinggi sebesar 19%.  Beban keuangan yang meningkat menyebabkan laba sebelum pajak terpangkas sebesar 64%. Perusahaan menderita kerugian selisih kurs pada periode ini dan menikmati keuntungan selisih kurs pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, pada akhirnya laba bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan menguat sebesar 18%.
Secara tahunan rasio GPM menyusut menjadi 33,22% dari 35,79%. Secara kuartalan rasio menguat tipis menjadi 28,80% dari 29,24%. Namun rasio ini masih lebih kecil daripada rasio tahunan.

Secara tahunan saldo aset tetap meningkat sebesar 22%. Peningkatan ini diharapkan dapat menopang pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial secara tahunan meningkat drastis sebesar 75%. Beban keuangan turut melesat sebesar 69%. Beban keuangan merupakan beban yang berpengaruh signifikan terhadap laba bersih perusahaan.

Pengeluaran kas untuk investasi secara tahunan berkurang sebesar 18%. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar, pengeluaran tersebut adalah berjumlah 20%.

HMSP - Analisis Laporan Keuangan Q2 2014




Analisis Laporan Keuangan Q2 2014 HMSP

PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) secara tahunan sampai dengan Q2 2014 mencetak pertumbuhan penjualan sebesar 10%. Beban pokok penjualan naik sebesar 11% sehingga laba kotor naik sebesar 11%. Di sisi lain beban usaha dan beban lain meningkat sebesar 8% sehingga laba sebelum pajak tumbuh sebesar 7%. Pada akhirnya laba bersih bertambah sebesar 8% karena pertumbuhan beban pajak penghasilan sebesar 7%.

Secara kuartalan perusahaan mencetak pertumbuhan pendapatan yang baik dengan kenaikan sebesar 13%. Namun beban pokok penjualan naik sebesar 18% sehingga laba kotor naik sebesar 2%. Di sisi lain beban usaha dan beban lain meningkat sebesar 57% sehingga laba sebelum pajak merosot sebesar 17%. Pada akhirnya laba bersih  turun sebesar 17% juga.

Secara tahunan rasio GPM menipis menjadi 26,32% dari 26,87%. Secara kuartalan rasio GPM turun menjadi 23,90% dari 26,67%.

Saldo aset tetap secara tahunan meningkat sebesar 17%. Peningkatan ini diharapkan dapat menyumbang pada peningkatan pendapatan jangka panjang.

Secara tahunan saldo hutang finansial melambung. Namun hutang finansial perusahaan sangat minim sehingga beban keuangan tidak memberatkan.

Pengeluaran kas untuk investasi secara tahunan menipis sebesar 8%. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar, pengeluaran tersebut setara dengan 16%.