Berikut ini grafik akumulasi pertumbuhan harga (dalam persentase) komoditas yang paling penting bagi emiten-emiten sektor komoditas yang tercatat di BEI. Data adalah data bulanan mulai Agustus 2003 sampai dengan Juli 2003. Harga dasar dalam USD.
Tampilkan postingan dengan label CPO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CPO. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 07 September 2013
Jumat, 06 September 2013
Korelasi Harga CPO dengan Harga Saham
Berikut ini adalah tabel perbandingan antara harga CPO lelangan AALI (harga Dumai) dengan harga saham AALI, BWPT, LSIP dan SIMP antara periode Januari 2012 sd tanggal 06/09/2013.
Rupanya hanya belakangan saja harga CPO mempunyai korelasi yang sangat kuat dengan harga-harga saham terutama untuk saham AALI dan LSIP.
Kenapa tidak ada korelasi yang sangat kuat antara harga CPO dengan harga saham dalam waktu yang lebih panjang? Hal ini dapat disebabkan oleh kinerja penjualan dan laba dari perusahaan yang mana selain tergantung kepada harga penjualan, yang tidak kalah penting (atau yang paling penting) adalah volume penjualan/produksinya.
Korelasi Harga Komoditas
Berkut ini adalah perbandingan koefisien korelasi antara beberapa komoditas berdasarkan harga bulanan sampai dengan Juli 2013.
Yang menarik dari tabel di atas, dengan data yang lebih panjang CPO mempunyai tingkat korelasi dengan kedelai yang kuat, namun dengan data yang lebih pendek, antara Januari 2012 sampai Juli 2013 ternyata tingkat korelasinya negatif. Begitu juga dengan minyak kedelai yang rupanya semakin tidak mempunyai korelasi dengan kedelai itu sendiri.
Kita lihat juga korelasi antara batubara dengan minyak bumi juga tidak kuat sejak tahun 2010.
Selasa, 03 September 2013
Perbandingan Rasio Produksi Emiten Perkebunan
Berikut ini adalah data rasio produksi FFB (fresh fruit bunches/tandan buah segar) dan CPO ER (CPO extraction rate) emiten perkebunan.
Data rasio FFB adalah ton/ha. Semakin tinggi masing-masing rasio adalah semakin baik/efisien.
Senin, 02 September 2013
Perbandingan Laba Per Ha Emiten Perkebunan
Berikut ini adalah tabel perbandingan profitabilitas emiten perkebunan per 30 Juni 2013.
Dari data di atas kalau melihat margin laba kotor/gross profit margin dan margin laba bersih/net profit margin kita dapat langsung tahu kalau BWPT adalah yang terbaik dan yang kedua adalah AALI.
Tapi kalau kita pecah kembali antara angka-angka penjualan, laba kotor, dan laba bersih per ha masing-masing tanaman menghasilkan dari emiten-emiten tersebut di atas, maka kita dapat peroleh pandangan yang sedikit berbeda. (Note: data luas kebun AALI per 31 Des 2012 dan yang lain per 30 Juni 2013).
Walaupun BWPT dari sisi GPM dan NPM lebih bagus dari AALI, tapi dari segi jumlah penjualan per ha masih lebih bagus AALI. AALI lebih bagus daripada BWPT dari sisi ini dapat dimengerti karena tanaman menghasilkan BWPT masih cukup banyak yang berusia muda sehingga jumlah produksinya belum mencapai puncaknya, selain itu BWPT masih cukup banyak menjual produknya dalam bentuk tandan buah segar (TBS). Kalau kita bandingkan jumlah laba kotor per ha, maka BWPT terlihat sedikit lebih efisien daripada AALI namun perbandingannya sudah tidak begitu jauh lagi daripada jika hanya dibandingkan antara GPM AALI dengan BWPT.
Bagaimana dengan penjualan SIMP per ha yang lebih bagus daripada AALI? SIMP mungkin dapat disimpulkan banyak membeli TBS ataupun CPO atau produk lainnya dari pihak lain untuk diolah kembali atau ditradingkan, sehingga jumlah penjualannya lebih bagus daripada AALI. Ini dapat diketahui kebenarannya setelah kita bandingkan antara jumlah laba kotor AALI yang lebih tinggi daripada SIMP.Selain itu SIMP juga banyak memproduksi produk yang lebih hilir daripada AALI, seperti minyak goreng, margarin, dll.
Kalau melihat ke laba bersih per ha antar AALI dan BWPT, maka sekarang jadi kelihatan yang sebenarnya yang lebih bagus dalam menghasilkan laba bersih per ha. BWPT lebih rendah dari sisi ini karena banyak biaya bunga yang harus dibayar berhubung tingkat hutangnya yang paling tinggi di antara emiten-emiten tersebut di atas.
Di antara lima emiten tersebut di atas tentulah GZCO yang paling jelek dari semua perbandingan. Jika penjualan per ha rendah ini berarti jumlah produksi yang rendah. Jumlah produksi yang rendah bisa disebabkan oleh profil umur tanaman yang masih muda atau terlalu tua atau masalah khusus lainnya. Kalau GZCO lebih disebabkan karena tanaman yang masih muda sehingga produksinya masih sedikit.
Dari semua emiten di atas tampaknya AALI adalah emiten yang bekerja paling baik untuk menghasilkan rupiah dari setiap hektar tanah yang dipunyainya. Berarti paling baik dalam urusan meningkatkan hasil investasi pemegang sahamnya.
Lihat kembali ke perbandingan ROE berikut ini:
Jika harga penjualan naik, dari kelima emiten tersebut di atas yang mana yang akan menikmati keuntungan terbesar? Kenaikan harga jual hanya dapat dinikmati oleh emiten yang mempunyai produksi yang baik, penjualan selama ini sebagian besar dari produksi sendiri, dan perusahaan yang efisien dari sisi biaya.
Maka itu jawabannya adalah:
No.1 AALI
No.2 BWPT
No.3 LSIP
No.4 SIMP
Rabu, 28 Agustus 2013
Perbandingan Nilai Intrinsik Emiten Perkebunan
Berikut ini adalah perbandingan nilai intrinsik emiten perkebunan dengan nilai kapitalisasinya terkini (27/8/13).
Nilai intrinsik diperoleh dengan mengganti nilai tanaman di neraca dengan nilai perkiraan. Nilai aset setelah penyesuaian ini kemudian dikurangi dengan nilai kewajiban dan kepentingan minoritas.
Patokan nilai tanaman adalah Rp 150.000.000/ha TM dan Rp 100.000.000/ha TBM.
Selasa, 27 Agustus 2013
Perbandingan Kapitalisasi Emiten Perkebunan vs Luas Kebun
Berikut ini adalah data perbandingan antara kapitalisasi emiten perkebunan dengan total luas lahan tanaman menghasilkan (TM) dan tanaman belum menghasilkan (TBM).
Langganan:
Postingan (Atom)
Terpopuler 7 Hari Terakhir
-
Mengetahui tingkat volatilitas sebuah saham tentunya tidak lengkap jika tidak diikutkan angka beta-nya, Angka beta sebuah saham adalah ang...