Tampilkan postingan dengan label INVESTOR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INVESTOR. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Agustus 2013

Menjadi Long-Term Investor

Pernahkah Anda berpikir untuk merumuskan hasil investasi Anda tidak dalam hitungan per tahun?

Kenyataan yang selalu terpampang di depan kita adalah return selama setahun. Bunga deposito dihitung dalam setahun. ROE dihitung dari hasil setahun. EPS juga dihitung dari laba setahun. Sehingga PER juga dihitung atas dasar tahunan. Apakah "setahun" tersebut tidak bisa kita ubah menjadi misalnya dua tahun, tiga tahun atau lima tahun?

Dengan kategori sampai dengan hanya setahun, Anda digolongkan ke investor short term.

Menjadi seorang investor tulen ternyata tidak cukup jika hanya menyimpan saham selama satu tahun saja. Lihat Warren Buffet yang baru-baru menjual saham The Washington Post. Ternyata dia sudah mulai membeli saham tersebut sejak tahun 1973.

Jika Anda ingin meniru Warren Buffet, maka Anda harus menjadi investor long-term.

Jika view investasi lebih dari setahun, maka Anda tidak cukup mendalami laporan keuangan untuk periode satu tahun dan membandingkannya dengan laporan keuangan tahun lalu. Anda tentunya harus juga mendalami laporan tahun-tahun sebelumnya. Semakin banyak laporan yang Anda baca, maka semakin dalami pemahaman Anda terhadap perusahaan tersebut. Pemahaman yang mendalam akan memperluas view Anda lebih dari setahun terhadap perusahaan tersebut.

Warren Buffet (source: Wikipedia)

Minggu, 21 Juli 2013

Investor Yang Salah Persepsi


Saya mendengar pernyataan ini dari investor saham lama:

  • Harga saham di atas Rp 10.000 sudah terlalu mahal dan harga saham di bawah Rp 1.000 masih murah apalagi saham di bawah Rp 100. (Mahal murahnya harga saham harusnya dibandingkan dari sisi fundamentalnya, misalnya EPS berapa, PER berapa)
  • Harga saham di atas Rp 10.000 juga tidak akan naik/turun (%) sebesar saham Rp 1.000 atau Rp 100. (Ternyata yang dilihat adalah kenaikan 1, 2 atau 3 hari saja. Untuk jangka lebih lama kenyataannya tidak ada perbedaan yang berarti. Yang sering terjadi adalah karena biasanya harga saham di atas Rp 10.000 yang aktif kebanyakan adalah saham bluechips, pergerakan harganya lebih tidak fluktuatif)
  • Kalau membeli saham harga Rp 10.000 modalnya besar, sehingga hanya membeli saham harga Rp 1.000. (Padahal investasinya lebih dari Rp 100 juta). (Kalau dibagi dengan nilai investasinya untuk sebuah saham, hanya jumlah lot yang berbeda modalnya ya sama besar)

Saya kenal investor lama:

  • Yang doyan beli waran saham X, Y, Z karena harganya "sangat murah" cuma beberapa rupiah sehingga kalau naik maka cuan akan sangat besar. (Yang tidak disadari adalah harga fundamental dari sang induk dan belum lagi waktu penebusan waran sudah mendekati expired)
  • Yang doyan saham gorengan X, Y, Z karena sering "dinaikkan" tinggi. (Ya kembali lagi ke sisi fundamental dan mesti dipikirkan kalau "diturunkan" tinggi bagimana)
Saya tahu investor yang menggunakan analisis fundamental yang mengatakan:
  • Saham X harusnya tidak setinggi saham ASII karena ASII adalah perusahaan dengan fundamental terbaik kalaupun naik saham X "digoreng". (Oke, mungkin ASII adalah saham paling bagus, namun bukan berarti saham bagus lainnya tidak akan lebih mahal daripada ASII. Sebab mahal tidaknya sebuah saham masih sangat ditentukan oleh jumlah EPS-nya. Selain itu tampaknya investor tersebut belum melakukan "bedah" apa pun terhadap saham X tersebut)
  • Saham X masih murah karena PER saham X cuma di bawah 5x, apalagi jika dibandingkan dengan PER industri yang 15x. (Rupanya patokannya cuma PER. Selain itu tampaknya patokannya adalah laporan laba rugi terkini yang labanya ternyata banyak disumbangkan oleh laba lain-lain. Jadi investor tersebut belum melakukan "bedah" lanjutan terhadap emiten tersebut)
 

Senin, 10 Juni 2013

Menjadi Investor, Trader atau Smart Investor?



Jika ingin mencari makan di pasar saham, apa pilihan profesi Anda? Investor atau trader? Atau Anda memilih kombinasi keduanya? Investrader? Tradeinvestor?

Konon Anda harus memilih salah satu spesialisasi agar Anda bisa berhasil.


Pengalaman saya mengajarkan, apa pun pilihan Anda, trader atau investor atau campur aduk keduanya selama kecintaan Anda tetap tinggi dan motivasi Anda tetap tinggi, Anda akan berhasil.
Menjadi seorang investor bisa jadi tidak cocok untuk Anda atau sebaliknya. Atau Anda memang cocok sebagai campuran gak jelas antara trade investor atau investor dengan jiwa trader.

Menjadi seorang investor tentunya Anda harus dibekali dengan ilmu analisis laporan keuangan, ilmu manajemen keuangan. Anda harus rajin riset emiten. Bedah emiten. Mampu membaca perubahan zaman. Mengikuti siklus ekonomi emiten.

Menjadi seorang trader tidak mumpuni jika tanpa ilmu bela diri analis teknikal. Ilmu manajemen uang. Ilmu cut loss. Harus rajin memantau market. Selalu on dalam setiap situasi. Mampu menjaga mentalitas dan emosi.

Semua campur aduk ilmu tersebut bisa menjadikan Anda smart investor. Saya golongkan Anda yang campur aduk ilmunya adalah smart investor. Smart investor bisa disematkan kepada Anda jika Anda berhasil dalam menerapkan ilmu apa saja dalam analisis fundamental dan analisis teknikal. Anda ambil saripati kedua ilmu tersebut dan Anda berhasil mengaplikasikannya dalam bidang yang anda geluti yaitu investasi saham dan perdagangan saham.

Boleh jadi Anda juga ada campurkan antara ilmu spekulasi alias judi atau ilmu Bandar dan ilmu gorengan. Tapi ya semua tergantung kepada Anda yang penting Anda bisa sukses.