ITMA merupakan salah satu emiten yang hampir tidak diperhatikan oleh sebagian besar investor. Padahal setelah mengakuisisi PT Mitratama Perkasa (MP) kinerja keuangan ITMA telah berubah sama sekali.
Suntikan MP ke dalam tubuh ITMA telah mampu membuat ITMA sangat subur dan menghasilkan laba yang tidak tanggung-tanggung.
Berikut ini informasi singkat dan sederhana dari laporan keuangan ITMA. Oleh karena laporan 31 Maret 2013 menggunakan mata uang USD maka saya konversi ke rupiah dengan kurs Rp 9.716 agar mudah dibandingkan.
Catatan: ROE Setahunkan Q1 2013 menggunakan dasar angka ekuitas per 31 Mar 2013
Melihat kinerja terakhir, target harga antara Rp 30.000 sd Rp 50.000 adalah cukup realistis.
Kinerja ITMA tergantung kepada MP dan kinerja MP tergantung kepada volume produksi dan penjualan BUMI. Target penjualan BUMI tahun ini 78 juta ton. Pada Q1 2013 BUMI telah berproduksi sebanyak 19,1 juta ton dan Q2 2013 telah berproduksi 19 juta ton.
Pada dasarnya kinerja MP tidak tergantung kepada harga batubara tetapi tergantung kepada volume produksi dan penjualan karena MP menyediakan jasa infrastruktur penunjang pertambangan batubara seperti pelabuhan.
Berikut ini infrastuktur penting MP:
- Pelabuhan batubara di Bengalon, Lubuk Tutung, Kalimantan Timur digunakan oleh PT. Kaltim Prima Coal (KPC) dengan kapasitas untuk menampung 8 juta ton batubara per tahun.
- Crusher batubara di Sangatta, Kalimantan Timur yang digunakan oleh KPC, memiliki kapasitas untuk memproses 14 juta ton batubara per tahun.
- Pelabuhan batubara di Asam-asam, Tanah Laut, Kalimantan Selatan yang digunakan oleh PT Arutmin Indonesia Arutmin (Arutmin) dengan kapasitas untuk menampung 12 juta ton batubara per tahun.
- Pelabuhan batubara di Mulia Barat, Kintap, Kalimantan Selatan yang digunakan oleh PT Arutmin Indonesia dengan kapasitas untuk menampung 30 juta ton per tahun.
Kalau melihat ke total kapasitas pelabuhan MP adalah sebesar 50 juta ton. Perusahaan lain penyedia infrastruktur pertambangan ke BUMI adalah PT Nusa Tambang Pratama (NTP). MP dan NTP adalah afiliasi dari PT Astrindo Mahakarya Indonesia yang baru saja diakuisisi oleh BIPI.
Pemegang saham ITMA adalah
Trust Energy Resources Pte. Ltd (merupakan afiliasi dari
Tata Power yang mana masuk
Tata Group ) sebesar 94,61% dan sisanya publik.
Perusahaan afiliasi Tata Power lainnya bisa dilihat di
daftar ini.
Berapa sebenarnya "nilai pasar" MP? Pada tahun 2010 BUMI melepas 69,83% saham MP kepada PT Nusantara Pratama Indah (NPI) senilai USD 190 juta sehingga nilai 30% MP milik ITMA setara dengan USD 81.626.000 yang kalau dikalkulasi ke rupiah dengan kurs 9.700 adalah senilai Rp 791 miliar yang apabila diterjemahkan ke dalam jumlah lembar saham ITMA nilainya setara dengan
Rp 23.250. Itu adalah harga tahun 2010 loh yang mana laba belum setinggi tahun terakhir.
Bagaimana kalau menentukan "nilai pasar" MP dengan pendekatan dari nilai akuisisi BIPI terhadap AMI senilai USD 600 juta? Struktur kepemilikan yang ruwet serta sebaran asset yang belum jelas cukup sulit untuk menentukan nilai MP dari akuisisi tersebut. NPI memiliki saham di MP sebesar 69,83%, dan AMI memiliki 99,97% saham NPI. Maka secara tidak langsung AMI memiliki 69,8091% saham MP.
NTP sahamnya dimiliki oleh PT Dwikarya Prima Abadi (DWI) 99,99% dan PT Marvel Capital Indonesia 0,01%. DWI dimiliki oleh Candice Investment Pte Ltd (Candice). Candice merupakan anak dari Nixon Investment Pte Ltd (Nixon). 70% Saham Nixon dimiliki oleh Sire Enterprises Pte Ltd (Sire) dan 30% oleh Bhira Investment Ltd (Bhira). AMI memiliki 99,99% saham Sire. Maka secara tidak langsung AMI memiliki 69,986% saham NTP.
Bhira sendiri merupakan afiliasi dari Tata Power (100%) dan merupakan pemegang saham 2,47% dari Trust Energy Resources Pte Ltd. Sungguh rumit bukan?
Lihat analisis nilai ITMA dari nilai akuisisi BIPI terhadap AMI yang terbaru
di sini