Sabtu, 06 Juli 2013

Bidang Usaha dan Nama Emiten Sebelumnya

Dalam sejarahnya banyak emiten di BEI saat ini merupakan hasil transformasi dari perusahaan lama dengan bidang yang jauh berbeda. Ada yang berubah karena backdoor listing, karena mengakuisisi atau diakuisisi, karena merger, dll.

Banyak emiten yang sebenarnya gagal dalam transformasi tersebut dan hanya beberapa yang bisa dibilang berhasil. Ada yang telah bertransformasi beberapa kali tetapi lebih banyak yang bertransformasi satu kali saja.

Mungkin bagi pemain baru perlu mengetahui awal mula usaha emiten tersebut sebelum berganti bidang usaha berikut nama awalnya.

Banyak kode saham emiten yang tidak berhubungan dengan nama emiten kini atau tidak berhubungan dengan usahanya. Mungkin banyak pemain baru yang bertanya-tanya. Ada yang namanya berubah karena perubahan kepemilikan, perubahan usaha, perkembangan usaha dan memang diubah biar dapat hoki barangkali.

Berikut ini daftar sebagian besar emiten yang telah mengganti usaha awalnya:



Kamis, 04 Juli 2013

The Super Companies 2013

Parahita telah menulis mengenai Super Companies 2012. Link dari pembahasan beliau ada di sini:

Dengan dasar data Parahita juga, siapa sebenarnya yang terbaik dari The Super Companies jika dimasukkan data laporan Q1 2013 (asumsi disetahunkan) untuk kurun waktu 10 tahun, 6 tahun, 5 tahun dan 3 tahun? Berikut ini datanya:


Perlu ditambahkan, kalau setahun saja laba tidak bertambah di antara kurun waktu 10 tahun maka perusahaan tersebut harus keluar dari daftar. Maka tahun ini kita punya calon yang bisa keluar yaitu AKRA dan SMSM. Tidak gampang untuk masuk daftar, tetapi gampang keluar. Hanya perusahaan yang betul-betul super yang tetap masuk daftar.

Bagaimana Caranya Menjadi Investor?

Berikut link page panduan untuk menjadi investor saham : http://www.idx.co.id/id-id/beranda/informasi/bagiinvestor/bagaimanamenjadiseoranginvestor.aspx

Selasa, 02 Juli 2013

BUMN - Perlukah Go Public?

BUMN atau sama dengan Badan Usaha Milik Negara yang artinya sahamnya adalah milik negara yang artinya adalah milik rakyat. Apakah BUMN perlu go pubic?

Ketika sebuah BUMN go public, maka sebagian sahamnya telah menjadi milik publik. Publik itu bisa siapa saja. Bisa orang atau badan asing. Bisa orang atau badan dalam negeri.

Esensi BUMN go public sebenarnya tidak begitu penting sebab pada dasarnya BUMN sudah menjadi milik publik. Jika go public maka BUMN akan dimiliki oleh pihak asing sedikit ataupun banyak.

Tujuan BUMN go public dimaksudkan juga untuk menjaga GCG yang baik. Namun, ada tidaknya go public harusnya tidak mengurangi GCG yang baik asalkan ada pengawasan yang benar. Go public pun tidak akan meningkatkan GCG selama memang pengawasan dari pihak terkait tidak dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Untuk memudahkan penggalangan dana agar mudah berekspansi juga tidak terlalu krusial. Selama BUMN dikelola dengan baik dan terbuka (tanpa perlu listing di bursa) maka penggalangan dana juga dapat mudah dilakukan selama semuanya transparan dan melalui prosedur yang benar.

Selama ini BUMN yang telah go public jika ingin menambah modal, misalnya, melalui right issue juga harus melalui jalan berliku melewati DPR terlebih dahulu. Untuk melakukan merger maupun akuisisi juga tidaklah gampang. Tidak segampang perusahaan swasta.

Jadi apakah BUMN perlu go public? BUMN go public sebenarnya untuk siapa?
 

Investasi Saham Properti atau Beli Propertinya Saja?


Apa yang Anda pilih antara membeli saham perusahaan properti atau membeli properti yang dijual oleh perusahaan?

Indeks sektor properti pada tanggal 30 Juni 2012 adalah 275,638 dan pada tanggal 30 Juni 2013 tercatat 483,267. Artinya telah naik 75%.

Apa keuntungannya membeli saham properti?

1. Laba perusahaan menjadi milik Anda. Kalau membeli properti tentunya Anda yang membayar laba tersebut.

2. Likuid. Kalau membeli properti pastinya tidak likuid. Anda sulit untuk membeli dan menjualnya dalam waktu yang cepat.

3. Hasil Anda lebih maksimal dengan trading seandainya Anda bisa mengikuti naik turunnya harga saham, boleh saja indeks cuma naik 75%, hasil Anda bisa jadi 100% lebih. Apakah harga properti naik turun?

4. Anda juga bisa menjadi kutu loncat untuk memaksimalkan laba. Loncat dari satu saham ke saham lainnya. Kalau loncat dari satu properti ke properti lainnya rasanya sangat sulit bukan?

5. Pajak yang Anda bayar maupun biaya lainnya sangatlah sedikit jika dibandingkan dengan membeli properti. Jika membeli properti banyak biaya yang dikeluarkan, dari BPHTB, BBN, biaya notaris, biaya kredit, PPN, biaya jasa broker. Ketika menjual Anda juga kena PPh 5% lagi.

6. Risiko developer menunda pembangunan fisik atau developer berniat tidak baik lumayan tinggi. Kalau membeli saham risiko seperti itu tidak ada apalagi merupakan perusahaan terbuka sehingga bisa dianalisis terlebih dahulu nilai masing-masing perusahaan sampai dengan nilai manajemennya.

7. Yang naik dari harga properti adalah tanahnya. Sehingga seandainya properti fisik harganya naik, otomatis nilai perusahaan juga akan naik karena mempunyai land bank atau propertinya juga.

8. Membeli properti pada dasarnya membutuhkan modal yang besar. Kalau membeli saham bisa dengan angka yang sangat kecil. Tidak ada diskriminasi bukan? Mau "miskin" atau kaya bisa membeli saham. Hanya orang "kaya" yang bisa beli properti bukan? Selain itu Anda bisa "nyicil" dengan membeli saham karena Anda tidak perlu membeli 1 unit properti pun.

9. Jika membeli saham properti Anda tidak perlu biaya perawatan dan pengamanan. Kalau Anda mempunyai properti dan tidak dimanfaatkan bisa jadi akan terbebani dengan biaya perawatan dan pengamanan.

10. Laba Anda lebih besar. Indeks naik 75%, apakah harga properti juga naik 75% setahun terakhir? Mungkin ada yang lebih dari itu. Tapi sebenarnya banyak emiten yang naik lebih dari 100% setahun terakhir. Rasanya Anda akan sulit mencari properti yang naik 100% setahun terakhir.

Senin, 01 Juli 2013

Analisis Saham ITMA (PT Sumber Energi Andalan)

ITMA merupakan salah satu emiten yang hampir tidak diperhatikan oleh sebagian besar investor. Padahal setelah mengakuisisi PT Mitratama Perkasa (MP) kinerja keuangan ITMA telah berubah sama sekali.

Suntikan MP ke dalam tubuh ITMA telah mampu membuat ITMA sangat subur dan menghasilkan laba yang tidak tanggung-tanggung.

Berikut ini informasi singkat dan sederhana dari laporan keuangan ITMA. Oleh karena laporan 31 Maret 2013 menggunakan mata uang USD maka saya konversi ke rupiah dengan kurs Rp 9.716 agar mudah dibandingkan.

Catatan: ROE Setahunkan Q1 2013 menggunakan dasar angka ekuitas per 31 Mar 2013

Melihat kinerja terakhir, target harga antara Rp 30.000 sd Rp 50.000 adalah cukup  realistis.

Kinerja ITMA tergantung kepada MP dan kinerja MP tergantung kepada volume produksi dan penjualan BUMI. Target penjualan BUMI tahun ini 78 juta ton. Pada Q1 2013 BUMI telah berproduksi sebanyak 19,1 juta ton dan Q2 2013 telah berproduksi 19 juta ton.

Pada dasarnya kinerja MP tidak tergantung kepada harga batubara tetapi tergantung kepada volume produksi dan penjualan karena MP menyediakan jasa infrastruktur penunjang pertambangan batubara seperti pelabuhan.

Berikut ini infrastuktur penting MP:

- Pelabuhan batubara di Bengalon, Lubuk Tutung, Kalimantan Timur digunakan oleh PT. Kaltim Prima Coal (KPC) dengan kapasitas untuk menampung 8 juta ton batubara per tahun.
- Crusher batubara di Sangatta, Kalimantan Timur yang digunakan oleh KPC, memiliki kapasitas untuk memproses 14 juta ton batubara per tahun.
- Pelabuhan batubara di Asam-asam, Tanah Laut, Kalimantan Selatan yang digunakan oleh PT Arutmin Indonesia Arutmin (Arutmin) dengan kapasitas untuk menampung 12 juta ton batubara per tahun.
- Pelabuhan batubara di Mulia Barat, Kintap, Kalimantan Selatan yang digunakan oleh PT Arutmin Indonesia dengan kapasitas untuk menampung 30 juta ton per tahun.

Kalau melihat ke total kapasitas pelabuhan MP adalah sebesar 50 juta ton. Perusahaan lain penyedia infrastruktur pertambangan ke BUMI adalah PT Nusa Tambang Pratama (NTP). MP dan NTP adalah afiliasi dari PT Astrindo Mahakarya Indonesia yang baru saja diakuisisi oleh BIPI.

Pemegang saham ITMA adalah Trust Energy Resources Pte. Ltd (merupakan afiliasi dari Tata Power yang mana masuk Tata Group ) sebesar 94,61% dan sisanya publik.

Perusahaan afiliasi Tata Power lainnya bisa dilihat di daftar ini.

Berapa sebenarnya "nilai pasar" MP? Pada tahun 2010 BUMI melepas 69,83% saham MP kepada PT Nusantara Pratama Indah (NPI) senilai USD 190 juta sehingga nilai 30% MP milik ITMA setara dengan USD 81.626.000 yang kalau dikalkulasi ke rupiah dengan kurs  9.700 adalah senilai Rp 791 miliar yang apabila diterjemahkan ke dalam jumlah lembar saham ITMA nilainya setara dengan Rp 23.250. Itu adalah harga tahun 2010 loh yang mana laba belum setinggi tahun terakhir.

Bagaimana kalau menentukan "nilai pasar" MP dengan pendekatan dari nilai akuisisi BIPI terhadap AMI senilai USD 600 juta? Struktur kepemilikan yang  ruwet serta sebaran asset yang belum jelas cukup sulit untuk menentukan nilai MP dari akuisisi tersebut. NPI memiliki saham di MP sebesar 69,83%, dan AMI memiliki 99,97% saham NPI. Maka secara tidak langsung AMI memiliki 69,8091% saham MP.

NTP sahamnya dimiliki oleh PT Dwikarya Prima Abadi (DWI) 99,99% dan PT Marvel Capital Indonesia 0,01%. DWI  dimiliki oleh Candice Investment Pte Ltd (Candice). Candice merupakan anak dari Nixon Investment Pte Ltd (Nixon). 70% Saham Nixon dimiliki oleh Sire Enterprises Pte Ltd (Sire) dan 30% oleh Bhira Investment Ltd (Bhira). AMI memiliki 99,99% saham Sire. Maka secara tidak langsung AMI memiliki 69,986% saham NTP.

Bhira sendiri merupakan afiliasi dari Tata Power (100%) dan merupakan pemegang saham 2,47% dari Trust Energy Resources Pte Ltd. Sungguh rumit bukan?

Lihat analisis nilai ITMA dari nilai akuisisi BIPI terhadap AMI yang terbaru di sini

Tujuan Trading adalah Hasil Yang Besar

Apakah tujuan dari trading saham Anda? Apakah Anda ingin hasil yang lebih besar? Ukuran lebih besar itu berapa patokannya? 20% per tahun, 30% atau lebih?

Tahukah Anda kinerja rata-rata reksadana saham selama setahun? Berikut ini adalah grafik indeks reksadana saham selama 3 tahun sampai dengan tanggal 28 Juni 2013 yang diambil dari infovesta.com.





Terbaca angkanya adalah 46. Berarti selama 3 tahun terakhir hasilnya kalau  dirata-ratakan cuma 15,33%. Kabar gembira bagi Anda karena ternyata kalau patokannya hanya reksadana saham maka itu gampang dikalahkan.