Minggu, 01 Juni 2014

LPPF - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014


PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengukir kinerja tahunan sampai dengan Q1 2014 yang sangat baik. Naiknya nilai pendapatan dibarengi dengan pengurangan pada beban keuangan melambungkan laba bersih perusahaan. Selain itu pajak penghasilan yang lebih kecil juga banyak mendorong kenaikan laba bersih.

Kinerja pada Q1 2014 dibandingkan dengan Q4 2013 memang memburuk namun lebih dikarenakan faktor musiman. Jika dibandingkan dengan kinerja pada Q1 2013, masih terjadi pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang sangat baik.

Perusahaan sampai dengan laporan posisi keuangan yang terakhir masih mencatatkan nilai ekuitas bersih yang negatif. Pada akhir tahun ini kemungkinan besar nilai ekuitas tersebut sudah akan positif.

Secara tahunan hutang finansial tercatat mengalami penurunan sehingga beban keuangan juga menurun signifikan. 

Tidak terlihat adanya ekspansi besar pada pengeluran investasi perusahaan, namun untungnya perusahaan tetap dapat meningkatkan penjualannya.

Pada harga terakhir (30/5/14) sebesar Rp 14.525, rasio PER tahunan masih terlihat cukup tinggi namun dibandingkan dengan MPPA adalah masih jauh lebih. rendah.

MPPA - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014


PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) mencetak kinerja tahunan sampai dengan Q1 2014 yang sangat baik. Pendapatan berhasil digenjot dengan kenaikan yang baik. Dibarengi dengan efisiensi pada beban usaha dan beban keuangan, laba bersih perusahaan dapat melesat tinggi.

Secara kuartalan kinerja memang menurun yang mana dapat terhitung wajar karena faktor musiman. Bila dibandingkan dengan tahun lalu, kinerja pada Q1 2014 masih meningkat. 

Secara tahunan nilai persediaan dan aset tetap perusahaan meningkat cukup tinggi sehingga diharapkan dapat menopang kinerja pendapatan pada periode-periode selanjutnya.

Hal yang menggembirakan juga adalah turunnya hutang finansial secara tahunan. Turunnya hutang finansial ini banyak berdampak pada turunnya beban finansial.

Harga saham perusahaan terakhir (30/5/14) di angka Rp 3.100  tergolong tidak murah.

TOWR - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014


PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mencapai kinerja tahunan sampai dengan Q1 2014 yang cemerlang. Baik pendapatan maupun laba bersih murni meningkat dengan sangat baik.

Secara kuartalan kinerja pendapatan mengalami stagnasi namun laba bersih murninya masih dapat naik dengan baik.

Rasio GPM secara tahunan mengalami penurunan. Secara kuartalan juga masih mengalami penurunan namun masih cukup solid. Jika dibandingkan dengan TBIG, rasio GPM perusahaan ini hanya setara dengan rasio NPM TBIG.

Tingkat hutang perusahaan termasuk juga sangat tinggi. Beban keuangan juga mengambil porsi yang signifikan dari beban-beban perusahaan. Secara tahunan hutang finansial masih naik moderat dan secara kuartalan sudah mengalami penurunan. Beban keuangan sendiri secara tahunan juga mengalami kenaikan setara dengan kenaikan hutang finansial.

Pada harga terakhir (30/5/14) sebesar Rp 3.950 valuasi harga TOWR tidak dapat dibilang murah lagi.

TBIG - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014


PT Tower Bersama Infrasturcture Tbk (TBIG) mencetak kinerja tahunan sampai dengan Q1 2014 yang sangat baik. Baik pendapatan maupun laba bersih berhasil naik dengan signifikan.

Secara kuartalan, pendapatan masih tetap tumbuh namun laba bersih murni mengalami pengikisan karena turunnya pendapatan dari kenaikan nilai wajar properti investasi.

Perusahaan ini agak lain dari yang lain karena menempatkan aset tetapnya berupa bangunan tower dan repeater beserta tanahnya sebagai properti investasi bukan sebagai aset tetap. Secara berkala aset tersebut dinilai kembali kewajarannya.

Dengan cara begitu di satu sisi menghindari dari beban depresiasi, di sisi lain memperoleh pendapatan yang sangat tinggi. Secara tahunan porsi dari pendapatan dari kenaikan nilai wajar properti investasi adalah 44% dari laba bersih yang telah disesuaikan.

Tingkat hutang perusahaan adalah sangat tinggi. Hutang finansial juga masih meningkat baik secara tahunan maupun kuartalan. Perusahaan masih terus-menerus meningkatkan properti investasinya.

Hutang finansial yang meningkat menyebabkan beban keuangan yang turut melonjak.

Tingkat rasio GPM perusahaan sangat tinggi. Begitu juga rasio NPM-nya. Tingginya rasio GPM disebabkan oleh rendahnya beban depresiasi.

Pada harga terakhir sebesar Rp 7.675, valuasi harga saham TBIG jika dilihat dari rasio PBV terbilang sangat premium mengingat nilai aset properti investasinya telah dinilai sesuai dengan nilai kewajarannya.

GJTL - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014


PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) merengkuh kinerja tahunan sampai dengan Q1 2014 yang tidak memuaskan. Pendapatan tercatat stagnan sedangkan turunnya margin laba kotor menyebabkan laba kotor dan laba bersih harus terperosok.

Kinerja pendapatan secara kuartalan terkikis tipis. Margin laba kotor memang meningkat namun belum cukup untuk menghasilkan laba bersih yang optimal.

Perusahaan menghadapi tantangan dalam menumbuhkan pendapatannya di sisi lain beban pokok dan beban usaha juga meningkat. Selain itu beban keuangan juga meningkat.

Hutang finansial masih mencatatkan peningkatan. Rasio DER juga cukup tinggi. Secara tahunan pengeluaran kas untuk investasi juga menurun. Aset tetap meningkat tidak begitu banyak.

Manajemen tampaknya harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan penjualan dan menaikkan margin laba kotor serta menekan beban-beban lainnya.

INKP - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014


PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) mencetak kinerja tahunan sampai dengan Q1 2014 yang sangat baik. Pendapatan tercatat hanya naik tipis namun margin laba kotor yang menebal menyebabkan laba bersih murni meningkat signifikan.

Secara kuartalan pendapatan menurun tipis, namun perbaikan pada margin laba kotor menyebabkan laba kotor meningkat. Selain itu efisiensi pada beban usaha juga menebalkan laba usaha. Turunnya laba bersih murni pada sisi bawah disebabkan oleh penyesuaian yang besar atas manfaat pajak penghasilan pada akhir tahun 2013.

Rasio DER perusahaan masih cukup tinggi dengan hutang finansial yang tinggi. Secara tahunan belum ada penurunan hutang finansial yang berarti. Namun dengan membaiknya kinerja diharapkan ke depannya hutang finansial dapat diturunkan agar beban finansial dapat menurun. Beban finansial merupakan beban yang berpengaruh signifikan terhadap laba perusahaan. Biarpun hutang finansial tidak meningkat, namun secara tahunan beban finansial masih meningkat cukup signifikan.

Valuasi harga saham INKP berdasarkan data terakhir (30/5/14) di angka Rp 1.395 terlihat masih cukup murah. Namun mungkin ini disebabkan oleh masih rendahnya rasio ROE dan juga tingginya rasio DER yang menyebabkan profil perusahaan yang relatif lebih berisiko tinggi. Selain itu prospek pertumbuhan terlihat tidak begitu menjanjikan terlihat dari rendahnya pertumbuhan pendapatan. Pengeluaran kas untuk investasi juga tidak cukup besar.

Perbaikan rasio GPM diharapkan ke depannya kinerja dapat meningkat lagi. Manfaat pajak penghasilan yang diterima oleh perusahaan juga perlu diperhatikan. Dalam jangka panjang tentunya bukan manfaat pajak yang akan diterima tetapi beban pajak kalau perusahaan dapat terus-menerus mencetak laba sebelum pajak.

PGAS - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014


PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) mengukir kinerja pendapatan tahunan sampai dengan Q1 2014 yang cukup baik. Namun sayangnya margin laba kotor yang lebih rendah menyebabkan penurunan laba bersih.

Hasil yang sama juga dicetak pada kuartal Q1 2014 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Pendapatan memang naik namun margin laba kotor yang mengempis menyebabkan pada akhirnya laba bersih harus terkikis.

Perusahaan melakukan investasi besar-besarannya dengan pengeluaran kas untuk investasi yang termasuk sangat besar. Pengeluaran terbesar adalah untuk melakukan pembelian atas properti minyak dan gas. Semoga hasilnya dapat kelihatan dalam jangka panjang.

Pengeluaran investasi yang besar ternyata tidak cukup dengan mengandalkan cadangan kas semata sehingga harus meminjam dari pihak lain yang menyebabkan hutang finansial melambung. Namun sampai dengan laporan kinerja terakhir terakhir, hutang finansial masih wajar dan belum muncul beban keuangan yang signifikan.