Sabtu, 01 November 2014

INTP - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014



Analisis Laporan Keuangan PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) Q3 2014



Tahunan (TTM)

Pendapatan meningkat sebesar 7%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 13% sehingga laba kotor tidak banyak berubah. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha dan pendapatan-beban lain bertambah sebesar 17% sehingga laba usaha turun sebesar 6%. Di sisi lain, kombinasi dari pendapatan-beban keuangan dan bagian laba entitas asosiasi bertambah sebesar 76% sehingga laba sebelum pajak turun sebesar 1%.

Pada akhirnya laba bersih meningkat sebesar 2% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 10%. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat juga sebesar 2%.

Rasio GPM menyusut menjadi 44,76% dari 47,58%.

Saldo aset tetap bertambah sebesar 32%. Penambahan tersebut diharapkan dapat menopang pertumbuhan pendapatan jangka panjang perusahaan.

Perubahaan mencatat hutang finansial yang sangat minim. Secara neto perusahaan pendapatan keuangan.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Pendapatan turun sebesar 7%. Di sisi beban pokok, beban berkurang sebesar 9% sehingga laba kotor terkikis sebesar 4%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha dan pendapatan-beban lain bertambah sebesar 14% sehingga laba usaha turun sebesar 12%. Di sisi lain, kombinasi dari pendapatan-beban keuangan dan bagian laba entitas asosiasi berkurang sebesar 15% sehingga laba sebelum pajak turun sebesar 12%.

Pada akhirnya laba bersih melemah sebesar 13% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 11%. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berkurang juga sebesar 13%.

Rasio GPM meningkat menjadi 45,92% dari 44,71%.

PGAS - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014



Analisis Laporan Keuangan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) Q3 2014


Tahunan (TTM)

Pendapatan meningkat sebesar 12%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 21% sehingga laba kotor bertambah  sebesar 3%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha dan pendapatan-beban lain berkurang sebesar 22% sehingga laba usaha tumbuh sebesar 21%. Di sisi lain, kombinasi dari pendapatan-beban keuangan, laba-rugi selisih kurs, bagian laba entitas asosiasi dan laba-rugi perubahan nilai wajar derivatif berkurang sebesar 80% sehingga laba sebelum pajak turun sebesar 9%.

Pada akhirnya laba bersih terpangkas sebesar 11% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 2%. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpangkas juga sebesar 11%.

Perusahaan mendulang keuntungan selisih kurs pada periode ini dan juga pada periode sebelumnya. Perusahaan juga menikmati keuntungan dari perubahan nilai wajar derivatif. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan tidak banyak berubah.

Rasio GPM menyusut menjadi 44,55% dari 48,65%.

Saldo aset tetap bertambah sebesar 15%. Properti minyak dan gas berlipat sebesar 191%. Penambahan-penambahan tersebut diharapkan dapat menopang pertumbuhan pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial berlipat sebesar 142%. Mulai muncul beban keuangan daripada pendapatan keuangan pada periode sebelumnya. Beban keuangan belum merupakan beban yang  berpengaruh besar terhadap laba bersih.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Pendapatan menyusut sebesar 6%. Di sisi beban pokok, beban berkurang sebesar 5% sehingga laba kotor terkikis  sebesar 8%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha dan pendapatan-beban lain bertambah sebesar 1% sehingga laba usaha tergerus sebesar 11%. Di sisi lain, kombinasi dari pendapatan-beban keuangan, laba-rugi selisih kurs, bagian laba entitas asosiasi dan laba-rugi perubahan nilai wajar derivatif menghasilkan pendapatan secara neto berbanding beban neto pada periode sebelumnya sehingga laba sebelum pajak naik sebesar 1%.

Pada akhirnya laba bersih meningkat sebesar 14% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 32%. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh juga sebesar 15%.

Perusahaan mendulang keuntungan selisih kurs pada periode ini dan mengalami kerugian selisih kurs pada periode sebelumnya. Perusahaan juga menikmati keuntungan dari perubahan nilai wajar derivatif. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan turun sebesar 2%.

Rasio GPM menyusut menjadi 45,18% dari 46,04%.

BBCA - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014



Analisis Laporan Keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Q3 2014


Tahunan (TTM)

Pendapatan bunga dan syariah meningkat sebesar 29%. Beban bunga dan syariah meningkat sebesar 50% sehingga pendapatan bunga dan syariah bersih naik sebesar 23%. Di sisi lain, pendapatan operasional lainnya meningkat sebesar 16%. Beban penyisihan cadangan kerugian penurunan nilai meningkat sebesar 24%. Beban operasional lainnya bertambah sebesar 23%. Kombinasi dari pendapatan dan beban-beban tersebut membuat laba operasional tumbuh sebesar 21%. Di sisi lain, pendapatan non-operasional berkurang sebesar 63% sehingga laba sebelum pajak naik sebesar 18%. 

Laba bersih kemudian tercatat bertambah sebesar 17% karena beban pajak penghasilan yang bertambah sebesar 21%.

Rasio GPM melemah menjadi 73,86% dari 77,46%.

Dari sisi neraca, kredit yang diberikan mengalami kenaikan sebesar 11%. Simpanan nasabah meningkat sebesar 8%.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Pendapatan bunga dan syariah meningkat sebesar 6%. Beban bunga dan syariah meningkat sebesar 9% sehingga pendapatan bunga dan syariah bersih naik sebesar 5%. Di sisi lain, pendapatan operasional lainnya meningkat sebesar 10%. Beban penyisihan cadangan kerugian penurunan nilai meningkat sebesar 63%. Beban operasional lainnya berkurang sebesar 4%. Kombinasi dari pendapatan dan beban-beban tersebut membuat laba operasional tumbuh sebesar 9%. Di sisi lain, muncul beban non-operasional berbanding pendapatan non-operasional pada periode sebelumnya sehingga laba sebelum pajak naik sebesar 3%. 

Laba bersih kemudian tercatat bertambah sebesar 4% karena beban pajak penghasilan yang bertambah sebesar 2%.

Rasio GPM masih cukup stabil dengan penurunan tipis menjadi 72,34% dari 73,15%.

Dari sisi neraca, kredit yang diberikan mengalami kenaikan sebesar 3%. Simpanan nasabah tumbuh sebesar 3%.

ADHI - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014



Analisis Laporan Keuangan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) Q3 2014

Tahunan (TTM)

Pendapatan mengalami penurunan sebesar 4%. Di sisi beban pokok, beban berkurang sebesar 4% juga sehingga laba kotor tidak banyak berubah. Pendapatan bersih ventura bersama konstruksi menurun sebesar 92% sehingga laba kotor setelah laba ventura bersama turun sebesar 8%. Di sisi lain kombinasi dari beban usaha, beban keuangan dan pendapatan-beban lain menyusut sebesar 26%  sehingga laba sebelum pajak meningkat sebesar 12%

Laba bersih kemudian mengembang sebesar 8%  dikarenakan beban pajak penghasilan yang meningkat sebesar 16%. Pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat juga sebesar 8%..

Perusahaan memperoleh keuntungan selisih kurs pada periode ini dan pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan turun sebesar 23%

Rasio GPM meningkat menjadi 11,90% dari 11,47%.

Saldo aset tetap meningkat sebesar 44%. Saldo aset real estat lancar tumbuh sebesar 172%.  Besarnya aset tetap dan aset real estat diharapkan dapat menopang pertumbuhan pendapatan jangka pendek dan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial meningkat sebesar 39%. Beban keuangan menyusut sebesar 35%. Beban keuangan merupakan beban yang berpengaruh besar terhadap laba bersih.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Pendapatan mengalami peningkatan sebesar 14%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 12% sehingga laba kotor meningkat sebesar 38%. Pendapatan bersih ventura bersama konstruksi menurun sebesar 355% sehingga laba kotor setelah laba ventura bersama naik sebesar 43%. Di sisi lain kombinasi dari beban usaha, beban keuangan dan pendapatan-beban lain meningkat sebesar 106%  sehingga laba sebelum pajak meningkat sebesar 13%

Laba bersih kemudian menyusut sebesar 5%  dikarenakan beban pajak penghasilan yang meningkat sebesar 28%. Pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berkurang sebesar 6%..

Perusahaan mengalami kerugian selisih kurs pada periode ini dan mendulang keuntungan selisih kurs pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, maka akan menghasilkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk daripada rugi bersih pada periode sebelumnya.

Rasio GPM meningkat menjadi 9,59% dari 7,91%.

WIKA - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014



Analisis Laporan Keuangan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) Q3 2014


Tahunan (TTM)

Penjualan mengalami peningkatan sebesar 10%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 9% sehingga laba kotor meningkat sebesar 17%. Laba ventura bersama menurun sebesar 5% sehingga laba kotor setelah laba ventura bersama naik sebesar 13%. Di sisi lain beban usaha meningkat sebesar 18%  sehingga laba usaha tumbuh sebesar 12%. Laba sebelum pajak meningkat sebesar 2% dikarenakan kombinasi dari beban keuangan, beban penurunan nilai piutang, laba-rugi selisih, bagian laba bersih entitas asosiasi dan lain-lain yang meningkat sebesar 106%.

Laba bersih kemudian mengembang sebesar 3%  dikarenakan beban pajak penghasilan yang meningkat sebesar 1%. Pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tidak banyak mengalami perubahan.

Perusahaan mengalami kerugian selisih kurs pada periode ini dan pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan turun sebesar 2%

Rasio GPM meningkat menjadi 11,27% dari 10,58%.

Saldo aset tetap meningkat sebesar 55%.  Besarnya aset tetap diharapkan dapat menopang pertumbuhan pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial meningkat sebesar 36%. Beban keuangan meningkat signifikan. Beban keuangan merupakan beban yang berpengaruh besar terhadap laba bersih.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Penjualan mengalami penurunan sebesar 10%. Di sisi beban pokok, beban berkurang sebesar 8% sehingga laba kotor terpangkas sebesar 23%. Laba ventura bersama meningkat sebesar 67% sehingga laba kotor setelah laba ventura bersama turun sebesar 13%. Di sisi lain beban usaha meningkat sebesar 13%  sehingga laba usaha terpuruk sebesar 21%. Laba sebelum pajak merosot sebesar 17% dikarenakan kombinasi dari beban keuangan, beban penurunan nilai piutang, laba-rugi selisih, bagian laba bersih entitas asosiasi dan lain-lain yang berkurang sebesar 43%.

Laba bersih kemudian menyusut sebesar 17%  dikarenakan beban pajak penghasilan yang menurun sebesar 16%. Pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik sebesar 3% dikarenakan bagian laba untuk kepentingan non-pengendali yang berkurang sebesar 63%.

Perusahaan mengalami kerugian selisih kurs pada periode ini dan pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan turun sebesar 6%

Rasio GPM menyusut menjadi 9,84% dari 11,53%.

JPFA - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014



Analisis Laporan Keuangan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) Q3 2014


Tahunan (TTM)

Penjualan meningkat sebesar 18%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 25% sehingga laba kotor terkikis  sebesar 12%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha, beban keuangan, laba-rugi selisih kurs dan pendapatan-beban lain bertambah sebesar 18% sehingga laba sebelum pajak terpangkas sebesar 72%.

Pada akhirnya laba bersih terpuruk sebesar 77% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 57%.  Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpangkas sebesar 81%.

Perusahaan mengalami kerugian selisih kurs pada periode ini dan juga pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan terpangkas sebesar 79%.

Rasio GPM menyusut menjadi 13,29% dari 17,76%.

Saldo aset tetap bertambah sebesar 30%. Penambahan ini diharapkan dapat menopang pertumbuhan pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial meningkat sebesar 22%. Beban keuangan bertambah sebesar 52%. Beban keuangan merupakan beban yang  berpengaruh besar terhadap laba bersih.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Penjualan tidak banyak mengalami perubahan. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 5% sehingga laba kotor tergerus  sebesar 27%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha, beban keuangan, laba-rugi selisih kurs dan pendapatan-beban lain bertambah sebesar 3% sehingga laba sebelum pajak terpangkas sebesar 90%.

Pada akhirnya laba bersih terpuruk sebesar 93% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 72%.  Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpangkas sebesar 98%.

Perusahaan mengalami kerugian selisih kurs pada periode ini dan juga pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan terpangkas sebesar 95%.

Rasio GPM menyusut menjadi 12,13% dari 16,63%.

Keterpurukan kinerja perusahaan pada kuartal ini terutama disebabkan oleh bisnis pada segmen ayam umur sehari (DOC) yang menghasilkan kerugian besar. Penjualan pada segmen ini menurun sebesar 23% menjadi Rp 303 miliar dengan menghasilkan rugi segmen sebesar Rp 162 miliar berbanding laba sebesar Rp 106 miliar pada periode sebelumnya.

CPIN - Analisis Laporan Keuangan Q3 2014



Analisis Laporan Keuangan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) Q3 2014


Tahunan (TTM)

Penjualan meningkat sebesar 19%. Di sisi beban pokok, beban bertambah sebesar 25% sehingga laba kotor terkikis  sebesar 3%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha dan pendapatan-beban lain bertambah sebesar 51% sehingga laba usaha terpangkas sebesar 22%. Di sisi lain, beban keuangan berkurang sebesar 98% sehingga laba sebelum pajak turun sebesar 14%.

Pada akhirnya laba bersih terpuruk sebesar 16% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 6%. Perusahaan mengalami kerugian selisih kurs pada periode ini dan juga pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan terpangkas sebesar 18%.

Rasio GPM menyusut menjadi 15,72% dari 19,33%.

Saldo aset tetap bertambah sebesar 39%. Penambahan ini diharapkan dapat menopang pertumbuhan pendapatan jangka panjang perusahaan.

Hutang finansial berlipat sebesar 155%. Beban keuangan merupakan beban yang  berpengaruh cukup besar terhadap laba bersih.

Kuartalan (Q3 2014 vs Q2 2014)

Penjualan menurun sebesar 5%. Di sisi beban pokok, beban tidak banyak berubah sehingga laba kotor terpangkas  sebesar 27%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha dan pendapatan-beban lain berkurang sebesar 10% sehingga laba usaha terpangkas sebesar 36%. Di sisi lain, beban keuangan bertambah sebesar 19% sehingga laba sebelum pajak turun sebesar 41%.

Pada akhirnya laba bersih terpuruk sebesar 22% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang sebesar 99% (rasio pajak penghasilan nyaris 0%?). Perusahaan mengalami kerugian selisih kurs pada periode ini dan juga pada periode sebelumnya. Jika disesuaikan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan terpangkas sebesar 25%.

Rasio GPM menyusut menjadi 12,94% dari 16,96%.