Kamis, 01 Mei 2014

MYOH - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014



PT Samindo Resources Tbk (MYOH) mengukir kinerja tahunan yang sangat memuaskan sampai dengan Q1 2014 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada Q1 2014 kinerja penjualan maupun laba usaha juga meningkat dengan sangat baik dibandingkan dengan Q4 2013.
Pendapatan tahunan naik sebesar 42% menjadi Rp 2,708 triliun. Laba kotor melambung 90% menjadi Rp 427 miliar. Laba usaha melonjak 129% menjadi Rp 356 miliar. Laba sebelum pajak terbang sebesar 121% menjadi Rp 325 miliar. Laba bersih berlipat sebesar 837% menjadi Rp 241 miliar.


MYOH secara tahunan menderita kerugian selisih kurs sebesar Rp 25 miliar dibandingkan dengan Rp 6 miliar pada tahun sebelumnya. Apabila kerugian tersebut dikeluarkan dari perhitungan laba bersih (dengan asumsi rasio pajak penghasilan 25%), maka laba bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk  akan terbang 770% menjadi Rp 259 miliar.

Secara kuartalan, pendapatan naik sebesar 4% menjadi Rp 744 miliar. Laba kotor meningkat 21% menjadi Rp 127 miliar. Nampaknya perusahaan berhasil melakukan efisiensi beban pokok penjualan sehingga laba kotor naik jauh lebih besar daripada kenaikan penjualan. Laba usaha meningkat 29% menjadi Rp 107 miliar.  Laba sebelum pajak melonjak 70% menjadi Rp 118 miliar. Tingginya kenaikan laba ini karena pada Q4 2013 rasio pajak jauh lebih tinggi yang mungkin disebabkan oleh koreksi ataupun penyesuaian musiman. Laba bersih kemudian melambung sebesar 131% menjadi Rp 87 miliar.

MYOH menikmati keuntungan selisih kurs pada Q1 2014 sebesar Rp 11 miliar dibandingkan dengan  kerugian selisih kurs pada Q4 2013 yang sebesar Rp 13 miliar. Sehingga apabila keuntungan dan kerugian tersebut dikeluarkan dari perhitungan laba bersih, maka laba bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk  akan naik lebih kecil yaitu  sebesar 65% menjadi Rp 78 miliar.

Rasio GPM tahunan meningkat menjadi 15,77% dari 11,82%. Secara kuartalan rasio GPM juga masih naik yaitu menjadi 17,08% dari 14,67%. Tentunya ini semua adalah catatan yang sangat baik.

Rasio NPM (disesuaikan) tahunan adalah menjadi 9,58% dari 1,57%. Secara kuartalan rasio NPM meningkat juga menjadi 10,48% dari 6,56%.

Rasio ROE tahunan (disesuaikan) mengalami kenaikan menjadi 31% dari 5%.

Rasio DER tahunan menurun menjadi 112% dari 142%. Hutang finansial tercatat naik sebesar 21% menjadi Rp 712 miliar. Beban keuangan juga meningkat sebesar 66% menjadi Rp 10 miliar.

Pengeluaran kas untuk aktivitas investasi secara tahunan menurun sebesar 69% menjadi Rp 237 miliar. Aset tetap naik 24% menjadi Rp 822 miliar.

Rasio pengeluaran kas tersebut dibandingkan dengan aset tidak lancar secara tahunan adalah sebesar 28% berbanding 115%. Dengan besarnya pengeluaran kas untuk investasi tentunya diharapkan imbal hasil dari investasi tersebut akan tampak pada  periode-periode yang akan datang.

Pada harga terakhir sebesar Rp 580 (30/4/14), saham MYOH dihargai hanya dengan rasio PER sebesar 4,93 berdasarkan EPS tahunan sampai dengan Q1 2014 yang disesuaikan dan PBV-nya 1,51 berdasarkan nilai buku per lembar per 31 Maret 2014.


Saham Paling Turun Bulan April 2014


Saham Paling Naik Bulan April 2014


Selasa, 29 April 2014

BEST - Analisis Laporan Q1 2014


PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) mencetak kinerja keuangan tahunan yang masih bagus sampai dengan Q1 2014. Namun kinerja kuartalan pada Q1 2014 jika dibandingkan dengan Q4 2013 mengalami kemunduran yang signifikan.

Pendapatan tahunan tercatat naik 23% menjadi Rp 1,208 triliun yang diiringi dengan kenaikan laba kotor sebesar 34% menjadi Rp 851 miliar. Laba usaha tumbuh sebesar 33% menjadi Rp 785 miliar. Laba sebelum pajak meningkat 23% menjadi Rp 732 miliar. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akhirnya tumbuh 23% menjadi Rp 660 miliar.

BMRI - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014


PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencetak kinerja tahunan sampai dengan Q1 2014 yang sangat baik. Namun kinerja kuartalan pada Q1 2014 dibandingkan dengan Q4 2013 tidak begitu menggembirakan.

Secara tahunan, pendapatan bunga, syariah dan premi kotor tercatat naik sebesar 20% menjadi Rp 59,682 triliun. Pendapatan bunga, syariah dan premi bersih tumbuh sebesar 18% menjadi Rp 36,901 triliun. Laba operasional meningkat sebesar 17% menjadi Rp 24,408 triliun. Laba sebelum pajak mengembang sebesar 15% menjadi Rp 24,871 triliun. Laba bersih bertambah sebesar 15% menjadi Rp 19,487 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melambung sebesar 15% menjadi Rp 18,825 triliun.

Secara kuartalan, pendapatan kotor tercatat naik sebesar 2% menjadi Rp 16,096 triliun. Namun pendapatan bersih turun sebesar 4% menjadi Rp 9,564 triliun Laba operasional terkikis sebesar 7% menjadi Rp 6,463 triliun. Laba sebelum pajak terjerembab sebesar 12% menjadi Rp 6,459 triliun. Laba bersih jatuh sebesar 8% menjadi Rp 5,123 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas berkurang 9% menjadi Rp 4,925 triliun.

BJTM - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014


PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) mencatat kinerja keuangan tahunan yang sangat baik sampai dengan Q1 2014 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Secara kuartalan, kinerja juga tumbuh sangat signifikan dan cukup mengejutkan.

Pendapatan bunga kotor dan syariah  secara tahunan tercatat naik sebesar 22% menjadi Rp 3,601 triliun. Pendapatan bunga dan syariah bersih bertambah sebesar 28% menjadi Rp 2,638 triliun. Laba operasional tumbuh 24% menjadi Rp 1,229 triliun. Laba sebelum pajak membesar 26% menjadi Rp 1,279 triliun. Laba bersih melambung 26% menjadi Rp 918 miliar.

UNTR - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014



PT United Tractors Tbk (UNTR) mencetak kinerja tahunan yang kurang begitu memuaskan sampai dengan Q1 2014 dibandingkan dengan tahun sebelumnya karena mencetak pertumbuhan yang relatif stagnan. Namun, kinerja laba pada Q1 2014 agak membaik dibandingkan dengan Q4 2013.

Pendapatan tahunan terkikis sebesar 2% menjadi Rp 52,464 triliun. Namun laba kotor mampu naik sebesar 3% menjadi Rp 10,248 triliun. Laba sebelum pajak mengembang sebesar 2% menjadi Rp 7,146 triliun. Laba bersih turun tipis 2% menjadi Rp 5,228 triliun akibat lebih tingginya beban pajak. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga melorot sebesar 2% menjadi Rp 5,281 triliun.