Selasa, 11 Maret 2014

ANTM - Analisis Laporan Keuangan Q4 2013



PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengalami kinerja keuangan yang sangat buruk pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012. Kinerja pada Q4 2013 bila dibandingkan dengan Q3 2013 masih juga mengalami kemunduran.

Agak sulit untuk menganalisis laporan laba rugi ANTM tahun 2013 ini mengingat adanya beberapa komponen pendapatan dan beban lain-lain yang tidak berkelanjutan dan insidentil yang menyertai pada tahun 2013 dan tahun 2012. Selain itu ANTM juga mencatat manfaat pajak penghasilan yang cukup besar pada tahun 2013. Sehingga analisis hanya dapat dilakukan sampai dengan tingkat laba usaha.


Pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012, biarpun penjualan dapat ditingkatkan sebesar 8% menjadi Rp 11,298 triliun, namun rendahnya GPM dan tingginya beban pokok penjualan menyebabkan laba kotor turun 20% menjadi Rp 1,616 triliun. Laba usaha pun turun 53% menjadi sebesar Rp 421 miliar.

Pada Q4 2013 dibandingkan dengan Q3 2013, penjualan mengalami kemunduran sebesar 7% menjadi Rp 2,491 triliun. Laba kotor turun 2% menjadi Rp 329 miliar. Laba usaha secara signifikan turun 158% menjadi rugi sebesar Rp 52 miliar disebabkan oleh naiknya beban usaha.

Rasio GPM pada tahun 2013 adalah sebesar 14,30% yang turun lumayan dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar 19,36%. Pada Q4 2013, rasio GPM naik tipis menjadi 13,22% dari 12,51% pada Q3 2013.

Rasio DER pada tahun 2013 mencapai angka 71% dibandingkan dengan angka yang lebih rendah sebesar 54% pada tahun 2012.

Pengeluaran kas untuk investasi pada tahun 2013 mengalami kemerosotan sebesar 24% menjadi Rp 2,647 triliun. Namun angka pengeluaran ini tentunya masih cukup besar. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar, maka perbandingannya adalah 18% untuk tahun 2013 dan 29% untuk tahun 2012.

Jumlah aset tetap naik signifikan pada tahun 2013 sebesar 44% menjadi Rp 6,700 triliun. Hutang finansial juga meningkat signifikan sebesar 46% menjadi Rp 6,785 triliun. Namun beban keuangan berhasil ditekan turun menjadi pendapatan bunga pada tahun 2013 sebesar Rp 25 miliar dibandingkan dengan beban pada tahun 2012 sebesar Rp 68 miliar.

Pada harga terakhir sebesar Rp 1.115 (11/1/14), ANTM dihargai dengan PBV sebesar 0,83 atas nilai buku per lembar per 31 Desember 2013.

Segmen penjualan bijih nikel mengambil porsi sebesar 36% dari omset penjualan tahun 2013. Sehingga pelarangan ekspor bijih nikel pada tahun 2014 dan seterusnya akan berdampak buruk bagi kinerja jangka pendek. Diharapkan ANTM dapat menutupi hilangnya penjualan bijih nikel dari segmen yang lainnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar