Kamis, 06 Maret 2014

BBCA - Analisis Laporan Keuangan Q4 2013



PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencetak kinerja yang sangat baik selama tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012. Namun pada Q4 2013 terjadi sedikit penurunan laba bersih dibandingkan dengan Q3 2013.

Pendapatan bunga kotor dan syariah tercatat naik sebesar 19% menjadi Rp 34,277 triliun. Pendapatan bunga dan syariah neto naik 24% menjadi Rp 26,425 triliun. Laba operasional meningkat sebesar 20% menjadi Rp 17,079 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik sebesar 22% menjadi Rp 14,254 triliun.


Secara kuartalan, pendapatan bunga kotor dan syariah tercatat naik sebesar 8% menjadi Rp 9,649 triliun. Pendapatan bunga dan syariah bersih juga naik 8% menjadi Rp 7,330 triliun. Namun akibat dari turunnya pendapatan operasional lainnya sebesar 2% dan naiknya beban operasional lainnya sebesar 15% telah menyebabkan tergerusnya margin laba  sehingga laba operasional hanya meningkat sebesar 2% menjadi Rp 4,732 triliun. BBCA juga mengalami penurunan pendapatan nonoperasional sebesar 65% sehingga laba sebelum pajak turun 3% menjadi Rp 4,871 triliun.  Pada akhirnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 4% menjadi Rp 3,894 triliun.

Dari sisi neraca, pada tahun 2013 pinjaman/kredit yang diberikan tercatat naik sebesar 21% menjadi Rp 313,314 triliun.  Aset meningkat sebesar 12% menjadi Rp 496,305 triliun. Simpanan nasabah meningkat sebesar 11% menjadi Rp 409,735 triliun.

Secara kuartalan, pada Q4 2013 pinjaman yang diberikan tersebut tercatat naik sebesar 5%. Aset tercatat naik sebesar 2% dan simpanan nasabah naik 2%.

Rasio ROE pada tahun 2013 dan 2012 tercatat sebesar 22% dan 23%.

Rasio GPM pada tahun 2013 tercatat naik menjadi 77,09% dari 73,53% dan rasio NPM naik tipis menjadi 41,58%% dari 40,58%.

Secara kuartalan, pada Q4 2013 rasio GPM turun tipis menjadi 75,96% dari 76,63% dan rasio NPM turun menjadi 40,35% dari 45,40%.

Pada harga terkini Rp 10.575 (6/3/14), BBCA diperdagangkan dengan rasio PER yang lebih premium dibandingkan dengan rata-rata industri yaitu sebesar 18,29 berdasarkan EPS tahun 2013 dan rasio PBV-nya sebesar 4,08 berdasarkan nilai buku per lembar per 31 Desember 2013.

Jika mengambil EPS selama Q4 2013 yang disetahunkan, maka emiten ini diperdagangkan dengan PER sebesar 16,74.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar