Senin, 24 Maret 2014

ICBP - Analisis Laporan Keuangan Q4 2013


PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mencatat kinerja penjualan selama tahun 2013 yang bagus, namun naiknya beban menyebabkan penurunan tipis laba bersih. Secara kuartalan, pada Q4 2013 kinerja secara keseluruhan sangat tidak memuaskan karena penjualan turun begitu juga dengan laba bersih.

Penjualan tahun 2013 tercatat naik 16% dibandingkan dengan tahun 2012 menjadi Rp 25,095 triliun namun laba kotor hanya meningkat 11% menjadi Rp 6,426 triliun. Laba usaha  turun 3% menjadi Rp 2,772 triliun. Laba bersih tercatat turun sebesar 2% menjadi Rp 2,235 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan untuk pemilik entitas induk naik 2% menjadi Rp 2,225 triliun. ICBP menikmati keuntungan selisih kurs sebesar Rp 109 miliar pada tahun 2013 yang tercatat naik dari Rp 6 miliar pada tahun 2012. Apabila keuntungan selisih kurs ini dikeluarkan dari perhitungan laba bersih (dengan asumsi rasio pajak penghasilan 25%), maka laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun tipis 1% menjadi Rp 2,150 triliun.


Secara kuartalan, penjualan tercatat turun 2% menjadi Rp 6,218 triliun dan laba kotor turun 6% menjadi Rp 1,519 triliun. Laba usaha turun dalam 34% menjadi Rp 449 miliar. Laba bersih turun 40% menjadi Rp 343 miliar. ICBP menikmati keuntungan selisih kurs pada Q4 dan juga Q3 2013. Jika keuntungan selisih kurs tersebut dikeluarkan dari perhitungan, maka laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 35% menjadi Rp 356 miliar.

Rasio GPM mengalami penurunan selama tahun 2013 menjadi 25,61% dari 26,72% pada tahun 2012.  Secara kuartalan, rasio GPM turun menjadi 24,43% dari 25,30%.

Rasio NPM dengan laba bersih yang telah disesuaikan pada tahun 2013 turun menjadi 8,57% dari 10,01%. Secara kuartalan, rasio NPM juga turun menjadi hanya 5,72% dari 8,56%.
Rasio ROE menunjukkan angka yang menurun menjadi 17% pada tahun 2013 dari 19% pada tahun 2012.

Rasio DER mengalami peningkatan pada tahun 2013 menjadi 60% dari 49%.
Pengeluaran kas untuk investasi pada tahun 2013 meningkat signifikan sebesar 58% menjadi Rp 2,379 triliun. Aset tidak lancar naik 26% menjadi Rp 9,946 triliun. Aset tetapnya sendiri naik  25% menjadi Rp 4,844 triliun. Rasio pengeluaran kas terhadap aset tidak lancar berada pada angka 24% pada tahun 2013 dibandingkan dengan 19% pada tahun 2012. Adanya peningkatan pada sisi aset investasi tentunya masih memberi harapan besar akan adanya peningkatan lagi omset penjualan dan diharapkan laba bersih dapat meningkat pada periode-periode yang akan datang. Untuk janga pendek nampaknya ICBP tertekan oleh tingginya beban pokok penjualan karena naiknya biaya bahan baku yang sebagian besar diimpor. Begitu juga dengan naiknya beban upah dan gaji karyawan serta biaya iklan, pengangkutan dan distribusi.
Hutang finansial meningkat signifikan menjadi Rp 2,472 triliun. Namun secara tahunan, ICBP masih menikmati pendapatan bunga yang lebih tinggi daripada beban bunga.

Dengan harga terakhir (21/3/14) di Rp 10.975 emiten ini diperdagangkan pada rasio PER 29,77 berdasarkan EPS dengan laba bersih yang telah disesuaikan selama tahun 2013 dan PBV sebesar 5,08 sesuai dengan nilai buku per lembar per 31 Desember 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar