Minggu, 21 Juli 2013

Stock Split Diwajibkan?


Saham paling tinggi harganya selama sejarah BEI adalah saham MLBI yang mana harganya per 19 Juli 2013 adalah Rp 1.400.000 per lembar, sedangkan harga tertingginya pernah mencapai harga Rp 1.500.000.

Dengan data tanggal yang sama, saham BUMN paling tinggi harganya adalah SMGR sebesar Rp 14.600 dan pernah mencatat harga tertinggi sebesar Rp 19.150.

Selain MLBI, masih ada 3 saham lain yang harganya di atas Rp 100.000, yaitu MERK Rp 215.000, SQBI Rp 318.000 dan DLTA Rp 360.000. Semuanya adalah saham-saham yang tidak likuid perdagangannya.

Untuk saham yang berada antara harga Rp 10.000 sampai dengan Rp 100.000 berjumlah 24 saham termasuk SMGR. Banyak saham yang tidak likuid di antara kelompok ini juga.

Kenapa saham-saham harga besar di atas tidak likuid? Selain karena faktor jumlah saham beredar di publik yang sangat minim, faktor lainnya tentu saja adalah harganya yang sangat tinggi sehingga modal yang harus dikeluarkan untuk membeli 1 lot saja sudah sangat besar. Bayangkan untuk membeli 1 lot saham MLBI harus dikeluarkan uang senilai Rp 700 juta.

Beberapa waktu lalu BEI telah mempunyai rencana untuk menurunkan jumlah lembar saham setiap lot dari 500 lembar menjadi 100 lembar  yang bertujuan untuk meningkatkan likuiditas saham dan juga untuk meningkatkan jumlah investor retail kecil.

Menurut saya alangkah baiknya juga jika setiap emiten yang harga sahamnya telah melewati angka Rp 10.000 selama lebih dari 1 tahun, maka diwajibkan oleh BEI untuk melakukan pemecahan harga sahamnya alias stock split. Dengan stock split maka harga saham akan menjadi lebih terjangkau oleh investor retail kecil dan tentukan juga akan lebih likuid karena saham yang beredar menjadi lebih banyak.


Untuk saham di luar BUMN, maka harga saham wajib displit menjadi harga di bawah Rp 10.000. Sedangkan untuk saham BUMN wajib displit menjadi di bawah Rp 1.000 supaya benar-benar dapat dimiliki oleh semua investor.

Jika harga saham BUMN sekarang di atas Rp 10.000, bukannya cukup berat? Untuk membeli 1 lot saham seharga Rp 10.000 diperlukan dana sebesar Rp 5.000.000 sedangkan untuk harga Rp 1.000 cuma diperlukan dana sebesar Rp 500.000. Angka Rp 500.000 saya kira mampu dipenuhi oleh sebagian besar investor retail kecil.

Harga saham bukanlah penentu prestise sebuah perusahaan karena prestise sebenarnya tercipta dari nilai kapitalisasinya.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar