Minggu, 21 Juli 2013

Investor Yang Salah Persepsi


Saya mendengar pernyataan ini dari investor saham lama:

  • Harga saham di atas Rp 10.000 sudah terlalu mahal dan harga saham di bawah Rp 1.000 masih murah apalagi saham di bawah Rp 100. (Mahal murahnya harga saham harusnya dibandingkan dari sisi fundamentalnya, misalnya EPS berapa, PER berapa)
  • Harga saham di atas Rp 10.000 juga tidak akan naik/turun (%) sebesar saham Rp 1.000 atau Rp 100. (Ternyata yang dilihat adalah kenaikan 1, 2 atau 3 hari saja. Untuk jangka lebih lama kenyataannya tidak ada perbedaan yang berarti. Yang sering terjadi adalah karena biasanya harga saham di atas Rp 10.000 yang aktif kebanyakan adalah saham bluechips, pergerakan harganya lebih tidak fluktuatif)
  • Kalau membeli saham harga Rp 10.000 modalnya besar, sehingga hanya membeli saham harga Rp 1.000. (Padahal investasinya lebih dari Rp 100 juta). (Kalau dibagi dengan nilai investasinya untuk sebuah saham, hanya jumlah lot yang berbeda modalnya ya sama besar)

Saya kenal investor lama:

  • Yang doyan beli waran saham X, Y, Z karena harganya "sangat murah" cuma beberapa rupiah sehingga kalau naik maka cuan akan sangat besar. (Yang tidak disadari adalah harga fundamental dari sang induk dan belum lagi waktu penebusan waran sudah mendekati expired)
  • Yang doyan saham gorengan X, Y, Z karena sering "dinaikkan" tinggi. (Ya kembali lagi ke sisi fundamental dan mesti dipikirkan kalau "diturunkan" tinggi bagimana)
Saya tahu investor yang menggunakan analisis fundamental yang mengatakan:
  • Saham X harusnya tidak setinggi saham ASII karena ASII adalah perusahaan dengan fundamental terbaik kalaupun naik saham X "digoreng". (Oke, mungkin ASII adalah saham paling bagus, namun bukan berarti saham bagus lainnya tidak akan lebih mahal daripada ASII. Sebab mahal tidaknya sebuah saham masih sangat ditentukan oleh jumlah EPS-nya. Selain itu tampaknya investor tersebut belum melakukan "bedah" apa pun terhadap saham X tersebut)
  • Saham X masih murah karena PER saham X cuma di bawah 5x, apalagi jika dibandingkan dengan PER industri yang 15x. (Rupanya patokannya cuma PER. Selain itu tampaknya patokannya adalah laporan laba rugi terkini yang labanya ternyata banyak disumbangkan oleh laba lain-lain. Jadi investor tersebut belum melakukan "bedah" lanjutan terhadap emiten tersebut)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar