Minggu, 21 Juli 2013

Strategi Saham Komoditas - Analisis Debt to Equity Ratio (DER)

Hutang sangat berguna ketika investasi atas hutang tersebut menghasilkan. Begitu juga sebaliknya, hutang akan membawa bencana jika investasi atas hutang tersebut merugikan.

Kalau hasil dari usaha setahun dengan modal sendiri adalah 20%. Maka dengan menambah hutang sebesar 100% dari modal, hasilnya akan menjadi 20% x 2 = 40% dikurangi dengan biaya bunga.

Kalau ternyata usaha tersebut menghasilkan kerugian 20%? Ya, kerugian bertambah menjadi 2 kali juga tentunya ditambah dengan biaya bunga lagi.

Oleh karena hutang adalah pedang yang bermata dua, maka kita perlu berhati-hati untuk menilai sebuah perusahaan apakah hutangnya memberikan hasil yang lebih baik atau sebaliknya.

Apakah perusahaan tersebut mampu mentrasfer kenaikan biaya bunga ke harga jual dan menaikkan volume atau tidak jika pada suatu kondisi menyebabkan biaya bunga meningkat karena suku bunga pinjamannya meningkat, jumlah hutangnya meningkat, atau hutang meningkat karena perubahan kurs dari hutang yang ada?

Selain itu, jika pada suatu kondisi terjadi perubahan penurunan penjualan, sedang di sisi lain hutang dan biaya bunga tidak dapat diturunkan seberapa besar dampaknya?

Untuk menganalisis tingkat kesehatan hutang dari sebuah perusahaan, salah satu rasio yang sering dipakai adalah rasio DER (debt to equity ratio) yang mana rumusnya adalah dengan membagi antara jumlah hutang dengan jumlah ekuitas.


Dari rumus di atas jika hutang semakin besar, maka rasio akan semakin besar. Begitu juga sebaliknya. Apabila seluruh hutang adalah hutang yang menimbulkan bunga, maka semakin besar DER beban bunga juga akan semakin besar.

Berikut ini adalah tabel ilustrasi sensitifitas perubahan laba dibandingkan dengan perubahan suku bunga pinjaman.

Terlihat pada tabel di bawah ini, dengan kondisi yang sama, perusahaan dengan DER 0,5 akan mengalami penurunan laba sebesar 20% apabila suku bunga naik 100% dari 10% menjadi 20% dan perusahaan dengan DER 2 akan mengalami penurunan laba sebesar 50%.



Apa strategi yang dapat diambil berkaitan dengan analisis DER jika semakin tinggi DER dianggap semakin negatif?

  1. Jika pada suatu kondisi terjadi peningkatan suku bunga sedangkan di sisi lain perusahaan tersebut tidak mampu mentransfer kenaikan biaya bunga ke dalam harga jualnya dan tidak mampu menaikkan volume penjualan, maka laba perusahaan akan turun karena naiknya biaya bunga. Pada kondisi begini pilih perusahaan dengan DER yang paling rendah.
  2. Jika pada suatu kondisi terjadi peningkatan hutang akibat kenaikan kurs dari hutang tersebut dan perusahaan tidak mampu mentransfer biaya kenaikan hutang tersebut ke dalam harga dan volume penjualannya, maka laba perusahaan akan turun karena naiknya beban selisih kurs. Pada kondisi begini pilih perusahaan dengan DER yang paling rendah.
  3. Jika pada suatu kondisi terjadi peningkatan suku bunga sedangkan di sisi lain perusahaan tersebut dapat mentransfer kenaikan biaya bunga tersebut ke dalam harga jualnya, maka laba perusahaan akan tetap netral.Pada kondisi begini maka DER tidak begitu penting untuk diperhatikan. Misalnya kenaikan suku bunga dampaknya adalah netral untuk bank-bank berhubung bank dapat mentransfer kenaikan suku bunga hutangnya yang berasal dari dana pihak ketiga dan lainnya dengan menaikkan suku bunga kreditnya ke konsumen/debiturnya. Seperti kondisi akhir-akhir ini, bank mulai menaikkan suku bunga KPR.
  4. Jika pada suatu kondisi terjadi penurunan harga jual sedangkan di sisi lain biaya bunga perusahaan tersebut tetap, maka laba perusahaan akan turun jika perusahaan tidak mampu menaikkan volume penjualannya. Pada kondisi begini pilih perusahaan dengan DER yang paling rendah.


STRATEGI SAHAM KOMODITAS

Hutang tidak selamanya jelek. Semakin besar hutang, jika hutang tersebut menghasilkan, maka justru hutang tersebut sangat bagus. Jadi strategi di atas dapat dibalik ketika semakin tinggi DER dianggap semakin positif.

Dari poin 5 di atas, apabila dihadapkan pada perusahaan sektor komoditas, misalnya, pertambangan batubara, maka pilihan dapat dijatuhkan ke perusahaan dengan:

               DER yang paling rendah jika harga komoditasnya sedang dalam siklus turun.

Sebaliknya, pilihlah perusahaan dengan:

               DER yang paling tinggi jika harga komoditasnya sedang dalam siklus naik

Tapi tentunya perlu diperhatikan kondisi terkini atas aset-aset yang telah ditanamkan dari hutang-hutang tersebut. Apakah aset tersebut tinggal dipetik hasilnya atau belum? Jika belum, maka rumus kedua di atas belum dapat dipakai karena tidak ada kesempatan untuk memperoleh laba berlipat karena aset belum menghasilkan.

Bagaimanapun harus direnungkan juga, dengan modal sendiri hasilnya adalah -50% atau +50% dengan hutang hasilnya adalah -100% atau + 100%.

Dengan modal sendiri seandainya rugi pun, perusahaan mungkin rugi 50% dari modal saja (ROE -50%). Tapi kalau kondisinya sama dengan modal orang lain alias hutang, ruginya bisa menjadi 100% (ROE -100%) alias modal lenyap alias bangkrut.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar