Senin, 21 April 2014

GJTL - Analisis Laporan Keuangan Q4 2013


PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) pada tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012  mencetak kinerja pendapatan yang tidak begitu bagus. Di sisi lain, kinerja laba bersihnya mengalami penyusutan yang signifikan. Kinerja pendapatan pada Q4 2013 mengalami peningkatan dibandingkan dengan Q3 2013, namun akibat tingginya beban pokok, laba kotor mengalami penyusutan yang signifikan.

Pendapatan tahunan tercatat turun sebesar 2% menjadi Rp 12,353 triliun. Laba kotor juga mengalami penurunan sebesar 2% menjadi Rp 2,273 triliun. Namun laba sebelum pajak turun signifikan sebesar 89% menjadi Rp 166 miliar akibat dari tingginya beban usaha dan terutama beban kerugian kurs. Laba bersih turun juga 89% menjadi Rp 120 miliar. 

GJTL mengalami rugi kurs yang signifikan pada tahun 2013 yaitu sebesar Rp 890 miliar dibandingkan dengan Rp 218 miliar pada tahun 2012. Apabila kerugian tersebut dikeluarkan dari perhitungan berikut juga keuntungan lain-lain yang sebesar Rp 207 miliar berbanding Rp 306 miliar pada tahun sebelumnya, maka laba bersih disesuaikan (dengan asumsi rasio pajak penghasilan 25%) akan menjadi turun 42% menjadi Rp 530 miliar. 


Secara kuartalan pendapatan tercatat juga mengalami kenaikan sebesar 9% menjadi Rp 3,244 triliun namun laba kotor menguap 22% menjadi Rp 458 miliar. Terjadi rugi sebelum pajak sebesar Rp 86 miliar berbanding rugi Rp 320 miliar pada kuartal sebelumnya. Kemudian rugi bersih menjadi R 85 miliar berbanding Rp 254 miliar pada kuartal sebelumnya.

GJTL mengalami lagi rugi selisih kurs pada Q4 2013 sebesar Rp 182 miliar berbanding Rp 591 miliar pada Q3 2013, apabila kita membuang kerugian selisih kurs tersebut dan juga pendapatan lain-lain (dengan asumsi pajak penghasilan sebesar 25%), maka pada Q4 2013 sebenarnya masih mengalami laba, yaitu sebesar Rp 33 miliar berbanding Rp 163 miliar pada Q3 2013.

Rasio GPM tahunan sebenarnya hanya mengalami penurunan tipis menjadi 18,40% dari 18,51%. Namun secara kuartalan angka rasio GPM jauh menurun, yaitu menjadi 14,11% dari 19,57% pada kuartal sebelumnya.

Rasio NPM (disesuaikan) tahunan turun menjadi 4,29% dari 7,26% dan secara kuatalan masih mengalami kemunduran dan hanya tersisa 1,02% dari 5,47%.

Rasio ROE (disesuaikan) tahunan turun menjadi 9% dari 17%.

Rasio DER tahunan meningkat menjadi 168% dari 135%. Hutang finansial membengkak 50% menjadi Rp 5,961 triliun. Beban keuangan melonjak 57% menjadi Rp 520 miliar. Naiknya beban keuangan ini tentunya menjadi perhatian besar karena porsinya yang sangat besar dalam struktur beban.

GJTL tampaknya masih akan menghadapi tantangan berat dari sisi margin kotor dan tingginya beban keuangan.

Pengeluaran kas untuk investasi tahunan tercatat menurun menjadi Rp 920 miliar dari Rp 1,349 triliun. Jika dibandingkan dengan jumlah aset lancar, maka pengeluaran tersebut adalah turun menjadi 11% dari 18%. Aset tetap tercatat naik sebesar 5% menjadi Rp 6,416 triliun.

Dengan harga terakhir (17/4/14) sebesar Rp 1.920, emiten ini diperdagangkan dengan rasio PER sebesar 12,63 berdasarkan EPS (yang disesuaikan) tahun 2013. Rasio PBV-nya menunjukkan angka sebesar hanya 1,17 berdasarkan nilai buku per lembar per 31 Desember 2013. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar