Selasa, 29 April 2014

UNTR - Analisis Laporan Keuangan Q1 2014



PT United Tractors Tbk (UNTR) mencetak kinerja tahunan yang kurang begitu memuaskan sampai dengan Q1 2014 dibandingkan dengan tahun sebelumnya karena mencetak pertumbuhan yang relatif stagnan. Namun, kinerja laba pada Q1 2014 agak membaik dibandingkan dengan Q4 2013.

Pendapatan tahunan terkikis sebesar 2% menjadi Rp 52,464 triliun. Namun laba kotor mampu naik sebesar 3% menjadi Rp 10,248 triliun. Laba sebelum pajak mengembang sebesar 2% menjadi Rp 7,146 triliun. Laba bersih turun tipis 2% menjadi Rp 5,228 triliun akibat lebih tingginya beban pajak. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga melorot sebesar 2% menjadi Rp 5,281 triliun.

Secara tahunan, UNTR menderita kerugian selisih kurs sebesar Rp 543 miliar dibandingkan dengan kerugian sebesar Rp 187 miliar pada tahun sebelumnya. Jika kerugian tersebut dikeluarkan dari perhitungan laba bersih beserta dengan keuntungan lain-lain dari penjualan aset tetap (dengan asumsi rasio pajak penghasilan 25%), maka laba bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan naik tipis sebesar 2% menjadi Rp  5,519 triliun.

Secara kuartalan, pendapatan tumbuh tipis sebesar 1% menjadi Rp 13,901 triliun. Laba kotor meningkat sebesar 3% menjadi Rp 2,808 triliun. Laba sebelum pajak mengembang tipis sebesar 1% menjadi Rp 2,069 triliun. Laba bersih bertambah sebesar 8% menjadi Rp 1,553 triliun. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengembang sebesar 8% menjadi Rp 1,576 triliun.

Secara kuartalan, UNTR menderita kerugin kurs sebesar Rp 177 miliar dibandingkan dengan Rp 11 miliar pada kuartal sebelumnya. Jika dilakukan penyesuaian beserta dengan pendapatan lain-lain dari penjualan aset tetap (dengan asumsi rasio pajak penghasilan 25%), maka laba bersih disesuaikan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk akan naik sebesar 14% menjadi Rp 1,644 triliun.

Rasio GPM tahunan mencapai pertumbuhan tipis di angka 19,53% dibandingkan dengan 18,71%. Secara kuartalan, rasio GPM juga naik tipis menjadi 20,20% dari 19,88.

Rasio NPM (disesuaikan) secara tahunan naik tipis mencapai angka 10,52% dibandingkan dengan 10,11%. Secara kuartalan rasio NPM juga naik menjadi 11,83% dari 10,51%.

Rasio DER tahunan meningkat tipis menjadi 58% berbanding 57%.

Rasio ROE tahunan (disesuaikan) mencapai angka 16% berbanding 18%.

Secara tahunan, UNTR terlihat banyak mengerem ekspansi yang ditunjukkan dengan turunnya pengeluaran kas untuk investasi yang turun sebesar 42% menjadi Rp 3,223 triliun. Jika dibandingkan dengan jumlah aset tidak lancar rasionya adalah 11% berbanding 20%.

Secara tahunan aset tetap turun 5% menjadi Rp 14,246 triliun. Properti pertambangan naik 8% menjadi Rp 11,525 triliun.

Dengan harga terakhir (29/4/14) sebesar Rp 21.900, UNTR dihargai dengan rasio PER sebesar 14,80 berdasarkan EPS tahunan sampai dengan Q1 2014 yang telah disesuaikan dan rasio PBV-nya sebesar 2,37 berdasarkan nilai buku per lembar per 31 Maret 2014.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar