Senin, 24 Februari 2014

TBIG - Analisis Laporan Keuangan Q4 2013


PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) adalah perusahaan penyedia jasa infrastruktur telekomunikasi dan sekaligus bergerak di bidang investasi properti. Kinerja laba selain tergantung dengan pendapatan dari jasa telekomunikasi juga tergantung kepada kenaikan harga dari investasi propertinya yang dinilai secara berkala.

Pada tahun 2013, sumbangan dari laba kenaikan nilai wajar properti investasinya naik 202% menjadi Rp 781 miliar. Total laba bersih tahun 2013 adalah Rp 1,352 triliun sehingga porsi kenaikan nilai wajar properti tersebut adalah 58%. Angka yang sangat besar tentunya dibandingkan dengan tahun 2012 yang mengambil porsi 28%.

Pendapatan pada tahun 2013 tercatat naik sebesar 57% menjadi Rp 2,691 triliun. Laba kotor naik 58% menjadi Rp 2,295 triliun. Laba usaha naik 60% menjadi Rp 2,052 triliun. Laba sebelum pajak naik 29% menjadi Rp 1,177 triliun. Kenaikan laba sebelum pajak yang lebih kecil dari laba usaha merupakan kombinasi dari kenaikan nilai wajar properti investasi, kenaikan beban keuangan sebesar 55% menjadi Rp 727 miliar dan kerugian kurs senilai Rp 799 miliar yang naik dari Rp 84 miliar dari tahun 2012.

Namun laba bersih mampu naik sebesar 46% menjadi Rp 1,352 triliun. Lebih besarnya laba bersih daripada laba sebelum pajak dikarenakan perusahaan menikmati manfaat pajak penghasilan sebesar Rp 174 miliar dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp 14 miliar.

Manfaat pajak penghasilan yang dinikmati berasal dari manfaat pajak tangguhan yang lebih besar daripada beban pajak kini. Perusahaan tampaknya mempunyai tax planning yang luar biasa sehingga setiap tahun sering menikmati manfaat pajak penghasilan.

Untuk memperoleh perbandingan yang lebih jelas atas kinerja laba bersih, maka kerugian selisih kurs harus dikeluarkan terlebih dahulu, sehingga diperoleh laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang telah disesuaikan yang naik 100% menjadi Rp 1,801 triliun dibandingkan dengan tahun 2012.

Beban bunga bagi TBIG menjadi perhatian besar karena besaran porsinya yang setara dengan 40% dari laba bersih yang telah disesuaikan pada tahun 2013 dan 52% pada tahun 2012.

Rasio DER menunjukkan tren kenaikan dengan angka sebesar 355% daripada tahun 2012 sebesar 237%.

Rasio aset lancar terhadap liabilitas lancar berada pada posisi yang tidak leluasa karena nilainya cuma 66% pada tahun 2013 dibandingkan dengan 105% pada tahun 2012.

Rasio ROE yang telah disesuaikan cukup tinggi di angka 45% pada tahun 2013 dibandingkan dengn 23% pada tahun 2012.

Rasio GPM tampaknya masih tetap dapat dijaga dengan baik di angka 85,20% dibandingkan dengan 84,62% pada tahun 2012. Rasio NPM tampaknya tidak diperlukan untuk dianalisis karena pengaruh dari kenaikan nilai wajar properti investasi yang berpengaruh besar terhadap total laba bersih.

Pada harga terakhir sebesar Rp 6.075, TBIG dinilai dengan rasio PER sebesar 16,18 berdasarkan EPS tahun 2013 yang telah disesuaikan dan rasio PBV-ny sebesar 7,31 berdasarkan nilai buku per lembar per 31 Desember 2013.

Kita tentu bisa bayangkan betapa premiumnya saham TBIG dinilai dari rasio PBV mengingat aset terbesar dia sendiri sudah dinilai pada nilai yang wajar setiap periodenya (kenaikannya sudah dimasukkan ke laba setiap tahun) sehingga nilai ekuitasnya sendiri nilainya sudah mendekati nilai yang wajar.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar