Senin, 24 Februari 2014

HERO - Analisis Laporan Keuangan Q4 2013


 PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mencetak kinerja tahun 2013 yang cukup baik dibandingkan dengan tahun 2012. Adanya peningkatan laba bersih yang signifikan terutama disumbangkan oleh laba dari penjualan tanah dan bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai kantor pusat dengan keuntungan sebesar Rp 363 miliar.

Penjualan tercatat naik sebesar 13% menjadi Rp 11,900 triliun. Laba kotor meningkat sebesar Rp 2,847 triliun. Laba usaha (yang di dalamnya termasuk laba penjualan tanah dan bangunan sejumlah seperti disebutkan di atas) naik 77% menjadi Rp 782 miliar. Laba bersih naik sebesar 122% menjadi Rp 671 miliar. Jika dilakukan penyesuaian dengan mengeluarkan laba penjualan tanah dan bangunan tersebut (termasuk pajak penghasilannya), maka laba bersih setelah penyesuaian akan menjadi Rp 332 miliar atau naik 10% saja.

Secara kuartalan, penjualan mengalami penurunan sebesar 11% namun uniknya laba kotor naik sebesar 10% menjadi Rp 799 miliar. Penjualan atas aset tanah dan bangunan tersebut di atas dilakukan pada bulan Desember 2013 sehingga mempengaruhi signifikan perolehan laba usaha dan laba bersih pada Q4 2013. Jika dilakukan penyesuaian, maka laba bersih lebih kurang hanya naik sebesar 16% menjadi Rp 113 miliar.

Secara keseluruhan, selama tahun 2013 perusahaan memperoleh penerimaan kas dari pelepasan aset tetap senilai Rp 438,577 miliar. Pengeluaran kas untuk perolehan aset tetap adalah senilai Rp 1,317 triliun yang meningkat dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar Rp 1,124 triliun.

Perusahaan juga melakukan right issue dengan perolehan kas sebesar Rp 2,980 triliun. Kombinasi dari arus kas neto dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan secara keseluruhan menyebabkan saldo kas meningkat sebesar Rp 1,075 triliun.

HERO tidak mempunyai hutang bank per 31 Desember 2013. Rasio DER mencapai angka 45% jauh membaik dibandingkan dengan tahun 2012 sebesar 218%.

Besarnya cadangan kas pada tahun 2013 menyebabkan tingginya pendapatan keuangan sehingga pada tahun 2013 secara net terdapat pendapatan bunga senilai Rp 8 miliar dibandingkan dengan beban keuangan pada tahun 2012 senilai Rp 40 miliar.

HERO termasuk cukup konservatif dibandingkan dengan perusahaan retail yang lainnya. Tidak seperti perusahaan yang lain yang banyak menyewa tempat penjualan, perusahaan ini justru lebih banyak memiliki tempat penjualan sendiri yang ditunjukkan dengan nilai aset tetap yang cukup besar yang pada tahun 2013 nilainya adalah sebesar Rp 3,726 triliun yang naik sebesar 44% dibandingkan dengan tahun 2012.

Rasio GPM tahun 2013 tercatat stagnan di angka 23,92% dibandingkan dengan 23,92%. Rasio NPM yang telah disesuaikan juga cukup stagnan menjadi 2,79% dari 2,88%.

Rasio ROE tercatat cukup rendah berhubung besarnya pertambahan nilai ekuitas dari penerbitan saham baru. Rasio ROE yang telah disesuaikan tahun 2013 tercatat sebesar 6% dan 18% pada tahun 2012.

Besarnya cadangan kas pada tahun 2013 tampaknya akan digunakan pada tahun-tahun selanjutnya untuk kegiatan ekspansi. Kita mungkin baru akan mulai melihat hasil dari ekspansi tersebut pada dua tahun yang akan datang. Namun tentunya kita harapkan HERO sudah dapat menikmati hasil dari ekspansinya pada tahun 2013 di tahun 2014.

Valuasi harga HERO dari sisi rasio PBV menunjukkan angka yang relatif lebih diskon dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis dengan angka PBV hanya Rp 2,05 (harga terakhir Rp 2.620 - 24/2/14) berdasarkan nilai buku per lembar per 31 Desember 2013.

(Lihat analisis laporan keuangn Q4 2013 LPPF di sini sebagai perbandingan).

Rasio PER pada harga terakhir menunjukkan angka 33,04 berdasarkan EPS tahun 2013 yang disesuaikan.




.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar