Analisis Laporan Keuangan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) Q3 2014
Tahunan (TTM)
Pendapatan
tumbuh sebesar 20%.
Di sisi beban pokok, beban
naik sebesar 15% sehingga laba kotor meningkat sebesar 23%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha, beban keuangan, laba-rugi selisih
kurs dan pendapatan-beban lain berkurang sebesar 40% sehingga laba sebelum pajak meningkat sebesar 43%.
Laba
bersih kemudian tumbuh sebesar 48% dikarenakan beban pajak penghasilan yang bertambah
sebesar 19%. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
pada akhirnya melaju sebesar 46%.
Perusahaan
menelan kerugian selisih kurs pada periode ini dan pada periode sebelumnya.
Perusahaan mendulang pendapatan lain-lain berupa keuntungan dari pembelian
dengan diskon pada periode ini. Jika kerugian dan pendapatan lain-lain tersebut
dikeluarkan dari perhitungan laba bersih, maka laba bersih yang dapat diatribusikan kepada
pemilik entitas induk akan meningkat sebesar 28%.
Rasio
GPM meningkat menjadi 59,39% dari 57,71%.
Saldo
persediaan lancar meningkat sebesar 38%. Peningkatan ini diharapkan dapat
menopang pendapatan jangka pendek dan jangka panjang perusahaan.
Saldo
persediaan tidak lancar melesat sebesar 178%. Saldo aset tetap berkurang sebesar 9%. Saldo properti investasi tumbuh
sebesar 8%.
Saldo
uang muka pelanggan hanya menyusut tipis sebesar 2%. Jika dibandingkan dengan
angka pendapatan, saldo tersebut setara dengan 46% berbanding 56% pada periode
sebelumnya.
Kas
masuk dari pelanggan bertambah sebesar 2%.
Jika dibandingkan dengan jumlah pendapatan, angka tersebut setara dengan
102% berbanding 120% pada periode
sebelumnya.
Hutang
finansial melesat sebesar 88%. Beban keuangan masih mencatat penurunan sebesar
45%. Beban keuangan merupakan beban yang berpengaruh tidak besar terhadap laba
bersih perusahaan.
Kuartalan
Pendapatan
turun sebesar 21%.
Di sisi beban pokok, beban
tidak banyak berubah sehingga laba kotor terpangkas sebesar 32%. Di sisi lain, kombinasi dari beban usaha, beban keuangan, laba-rugi selisih
kurs dan pendapatan-beban lain menghasilkan pendapatan daripada beban pada
periode sebelumnya sehingga laba sebelum pajak menyusut sebesar 19%.
Laba
bersih kemudian turun sebesar 20% dikarenakan beban pajak penghasilan yang berkurang
sebesar 14%. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk
pada akhirnya terpangkas sebesar 21%.
Perusahaan
menelan kerugian selisih kurs pada periode ini dan pada periode sebelumnya.
Perusahaan mendulang pendapatan lain-lain berupa keuntungan dari pembelian
dengan diskon pada periode ini. Jika kerugian dan pendapatan lain-lain tersebut
dikeluarkan dari perhitungan laba bersih, maka laba bersih yang dapat diatribusikan kepada
pemilik entitas induk akan terjerembab sebesar 42%.
Kas
masuk dari pelanggan bertambah sebesar 1%.
Jika dibandingkan dengan jumlah pendapatan, angka tersebut setara dengan
105% berbanding 82% pada periode
sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar